Palestina, Cara Lain Membaca Konflik
Judul: Palestina, Duka Orang-orang Terusir I & II (terjemahan)
Pengarang: Joe Sacco
Penerjemah: Ary Nilandari
Penerbit: Fantagraphics Books, 2003/DAR Mizan, 2004
Tebal: 150 halaman
***
DI Indonesia, nama Joe Sacco barangkali masih asing. Padahal, komikus lulusan Universitas Oregon ini di Amerika tengah melenggang sebagai satu-satunya penganut komik jurnalistik lewat karyanya yang banyak dimuat di majalah Details, Time, dan Harper’s. Beruntunglah karya peraih penghargaan Will Eisner Award untuk Best Original Graphic Novel 2001 kini dapat dinikmati pembaca Indonesia lewat Palestina, Duka Orang-orang Terusir yang diterbitkan DAR Mizan.
Dua serial komik Palestina menceritakan kisah perjalanan Joe Sacco saat bertandang ke Palestina. Sejak kunjungan itu, Sacco yang dalam perjalanannya ditemani fotografer asal Jepang, Saburo, menggambar daerah tersebut bak seorang fotografer merekam kehidupan masyarakat Palestina dengan gejolak sosial politiknya.
Komik ini dibuka dengan perjalanan Sacco memasuki Cairo yang sumpek dan bising. Caoro adalah persinggahannya pertama sebelum Palestina. Setibanya di hotel, ia bertemu dengan Shreef, seorang Muslim, dan Taha yang terang-terangan membenci Israel. Tiga minggu kemudian saat Sacco berada di Nablus, ingatannya melayang saat ia pergi ke Berlin, di mana hatinya tergugah ketika Kinghoffer, seorang Yahudi Amerika, ditembak mati oleh Front Pembebasan Palestina.
Pikiran Sacco terusik antara media Amerika yang demikian giatnya mengulik kisah sensasional Klinghoffer yang terbunuh, sedangkan Amerika seperti tak peduli dengan masalah rakyat Palestina ketika warganya terbunuh dalam serangan teroris. Hal demikian membulatkan hati Sacco untuk pergi ke Palestina untuk melihat sendiri apa yang tengah terjadi di sana.
Cerita lalu bergulir dalam petualangan Sacco di Palestina. Di sana ia menyaksikan bangsa Israel yang mencerminkan sosok penguasa sewenang-wenang sampai para aktivis perdamaian Palestina sendiri yang mendukung hak-hak rakyat Palestina tampak begitu ragu sehingga mereka jadi sasaran kekecewaan. Sacco menyebutnya dengan nada sedikit sinis, yaitu menyebutnya sebagai "pembicara manis" dan "menjerit seakan hidup bergantung pada kerasnya jeritan" (hal 20).
Lewat penggambarannya yang genial, Sacco memang menghadirkan napas baru dalam dua kubu yang berbeda, yaitu pengawinan antara komik sebagai pijakan visual dan laporan jurnalistik sebagai landasan cerita. Walau disajikan dalam bentuk komik, memang perlu sedikit energi lebih untuk menikmatinya. Karya Sacco memang sebuah karya yang tidak umum.
Selain menyimak "plesirannya", kita juga dihadapkan pada studi akademis dan historis. Misalnya di halaman 12, Sacco bercerita tentang asal mula sejarah penyebaran Yahudi-Inggris, di mana Lord Balfour menandatangani deklarasi dan para zionis memperoleh komitmen Inggris, yaitu Palestina untuk kaum Yahudi. Atau di halaman 42 ia bercerita perihal keberadaan warga Palestina yang sudah terusir sejak Theodor Herzl merumuskan Zionisme modern akhir tahun 1800-an.
BENTUK pengisahan yang tak biasa dengan tiadanya tokoh super hero laiknya komik membuat buku ini berbeda. Tak ada usaha mengarikaturkan hal-hal umum dengan maksud sedikit atau sekadar mengaburkan logika, seperti komik Asterix yang kaya dengan wawasan kultural tentang Yunani, Tintin yang di beberapa serinya terlihat representasi Herge dalam memandang situasi sosial politik di Cina, Mesir, dan negara lain, pun Dwi Koendoro dengan Panji Koming yang mengulik topik aktual Indonesia bergaya satir dalam balutan simbol budaya Jawa.
Ya, Sacco memang berada di sana semata sebagai penonton. Ia pun bukan seorang pengamat politik yang sedang menguji ilmu, atau seniman yang tengah mencari ide lantas merepresentasikan pengalaman dengan interpretasinya. Subyektivitas jelas ada. Namun, saat berada di wilayah konflik, tak terlihat ada usaha Sacco untuk melebihkan warga Palestina sebagai pihak yang lemah atau menciptakan pahlawan sebagai penyelamat. Tokoh utama dalam komik ini tak lain adalah Sacco sendiri yang memang berada di sana sebagai reporter.
Kendati demikian, di luar segala aspek yang membuat komik ini begitu sangat padat berisi hingga menjadi studi akademis (ahli dan pengamat komik Amerika menyebutnya "novel grafis"), ia tak lupa menyelipkan humor hingga pembaca tak lalu berkerut kening atau sekadar terpukau lewat gambar-gambarnya yang menurut pengantar Goenawan Mohamad mengandung "api" yang terpendam.
Di halaman 96, ia membagi pengalamannya tentang lelucon Palestina. Lelucon ini menceritakan tiga agen rahasia, satu CIA, satu KGB, dan satu lagi Shin Bet, agen Israel. Masing-masing berlomba siapa tercepat menangkap seekor kelinci yang dilepas ke hutan. Agen CIA pergi duluan dan kembali dengan kelinci dalam 10 menit. Agen KGB kembali dengan kelinci hanya dalam 5 menit. Begitu giliran agen Shin Bet, agen CIA dan KGB menunggu hingga 40 menit. Mereka kemudian masuk hutan dan mencari agen Israel itu. Begitu sampai di tengah hutan, yang mereka lihat adalah agen Shin Bet itu memaksa seekor keledai untuk mengaku sebagai kelinci!
Kejadian lucu juga terselip, misalnya ketika Sacco sedang memotret korban penembakan dan bom di Nablus. Di bangsal-bangsal rumah sakit, Sacco memotret penderitaan mereka dengan hati iba. Di tengah keibaan Sacco, ada seorang anak kecil sengaja berpose menunjukkan kakinya yang terbungkus gips dari tungkai ke paha sambil merengek kepadanya untuk memotret lagi! (hal 33)
Meski gambarnya tak berwarna, garis-garis dan arsirannya demikian ekspresif. Di sinilah kekuatan lain dari Sacco sebagai komikus dengan pijakan-pijakan visualnya yang eksotik (bahkan muram) menghanyutkan kita seperti menonton adegan film. Lihatlah di buku kedua halaman 56, saat Sacco menggambarkan kesaksian Firas, remaja belasan tahun yang bekerja untuk Front Popular Pembebasan Palestina ketika ditangkap tentara Israel. Firas yang terbaring di rumah sakit bersama 12 pasien kasus intifada lainnya disiksa tentara Israel. Adegan penyiksaan itu digambarkan bertahap dari berbagai sudut pandang, seperti sudut pandang kamera.
Sacco mampu meretas antara seni komik dan laporan jurnalistik sehingga di tangannya komik menjadi medium tak kalah agungnya dengan foto, pun reportase yang ditulis dengan pendekatan sastra ala Tom Wolfe, penulis buku The New Journalism (1973). Kala itu surat kabar Amerika memakai elemen ini saat kecepatan televisi memicu mereka agar tampil dengan laporan lebih dalam, tak sekadar reportase.
Dalam sejarah komik, Tintin memang sudah mengawali pijakan "komik jurnalistik" tersebut walau dikemas secara komikal dan karikatural. Adapun Sacco lewat media komik bertutur laiknya intuisi fotografer ulung yang menghasilkan gambar sama agungnya dengan foto pemenang World Press Photo sekalipun (konon, ia mengerjakan Palestina selama 4 tahun). Ia telah menaikkan kelas komik sebagai karya seni realis yang mampu menjadi kajian ilmu pengetahuan laksana cita-cita Scott Mc Cloud dalam bukunya, Understanding Comic (1993). Keunggulan ini membuatnya dianugerahi penghargaan nonkomik, seperti American Book Award 1996 atau pujian Dasser H Azuri, profesor Ilmu Politik, Universitas Massachuttes, sebagai karya yang menunjukkan keahlian, wawasan, dan empati. Ia juga mendapat pujian dari Journal of Palestinian Studies sebagai karya dokumenter terbaik. Palestina tampaknya berhasil sebagai cara lain kita dalam membaca wilayah konflik dari dua sudut pandang sekaligus, komik dan jurnalistik dengan jujur, apa adanya.
Donny Anggoro Kontributor Matabaca dan Editor Sebuah Penerbit di Jakarta
