| Kang Muroni: Bahasa penulisan yang "baik" |
|
|
|
Bahwa tulisan Ciu Pek Tong dalam subject "Kitab Cinta Kasih" bisa membuat Martha ngakak, kendati tidak semuanya dimengerti, sudah menunjukkan kelihayan kitab tersebut. Sebetulnya kalau kita orang suka "read between the lines" maka akan terlihat jurus-jurus yang luar biasa. Sebagai contoh, frase "tidak minum sudah mabok" "wisa wahaya" itu saja sudah merupakan satu sentilan rahasia senjata [piauw] yang sangat halus (subtle). Kecerdasan otak Ciu-heng --walau suka angin-anginan-- memang bisa direndengkan dengan Oei Pangcu dan Yo thayhiap.
"Memainkan" [acting out] karakter dari tokoh-tokoh cerita silat ini bukan barang mudah. Pertama, orang harus memahami bener karakter si tokoh -- dan ini berarti sudah paham itu cin-keng luar dalam. Dalam konteks ini prerequisite minimal adalah bacaan wajib trilogi Chin Yung (Sia tiauw enghiong, Sin tiauw hiap lu, To liong to) [NOTE: With all due respect, Kho Ping Hoo's stuff is not enough]. Kedua, soal bahasa. Genre cerita silat (jamannya Cioe Pek Tong) yang disadur dari karya Chin Yung itu memakai bahasa melayu rendah, atau bahasa "melayu babah" -- logat bicara di perkampungan pecinan yang dipakai oleh orang Cina dan keturunan Cina. Sebetulnya bahasa melayu rendah ini jauh lebih kreatif dan ekspresif [dan juga lebih mendekati bahasa yang dipakai dalam percakapan sehari-hari] ketimbang bahasa melayu tinggi yang dipakai oleh sastra Balai Pustaka. Sejak kemerdekaan, bahasa melayu rendah ini "dipinggirkan" -- mungkin karena semangat nasionalisme yang berlebihan [melupakan apa-apa yang dibikin sebelum merdeka] Sungguh menggirangkan bahwa sekarang ada upaya untuk memulihkan satu cara berbahasa yang unik ini ini. Bagi yang tertarik silahkan hadir di "eng hiong thay hwee" (pertemuan orang-orang gagah) besok Jumat ini di TIM, atau ikutan milis tjersil [ada satu tauwtoo edan, bergelar Hiang Phek Tauwtoo, yang begitu fasih dalam dialek melayu rendah! Tidak kenal maka tidak cinta! Dan proses kenal ini paling gampang dilakukan melalui pendekatan bahasa. Kuncinya adalah bahasa. Trilogi Chin Yung saduran Boe Beng Tjoe (OKT?) ini bener-bener "resap" kalau kita memahami bahasanya. Tentu saja tidak semua orang menyukai atau bersedia melakukan extra effort untuk mengerti bahasanya [Seperti halnya juga topik science yang sering dilempar Babat membutuhkan "bahasa" yang tepat -- language and logic of science -- untuk bisa dimengerti. Unfortunately, this is simply not for everyone -- only the brave ones go the extra miles]. Apapun membutuhkan bahasa yang cocok. Kalau mau menikmati yan musti usaha. Jer basuki mawa beya. Aku jadi ingat dulu nganterin temen Batak nonton ludruk di THR-nya Surabaya. Setengah jam penuh aku berusaha menterjemahkan banyolan-banyolan yang lagi berlangsung diatas panggung. Orang ramai ger-geran tetapi temen ini senyum saja nggak -- he just didn't get it! Prerequisite dialek jawa timuran plus senggakan madura memang musti dipunyai dulu. Ini juga berlaku untuk segala macam bentuk performing art, misalnya opera yang aku suka itu. Biasanya kalau minggu sore aku suka dengar opera di public radio [live from opera house in New York]. Nggak ngerti kata-katanya tetap saja suka musiknya. Akhir bukan lalu aku pergi ke konser yang menampilkan seorang tenor yang mumpuni [Benjamin Brecher, yang tenaga khikang nya luar biasa]. Setelah beberapa minggu dalam proyek La Bamba mendengari live performance semacam ini jadi lebih nyaman -- aku mulai bisa mengenal kata-kata yang dinyanyikan sang tenor ini [tiga komposisi pertama dalam bahasa Jerman, Perancis dan Italia]. Yang paling aku suka gubahan Franz Liszt yang diangkat dari sajaknya Victor Hugo. Dibawah ini sepotong syair yang kurasa cocok dengan suasana hari Valentine ini [terjemahanku dalam bahasa Inggris saja, belum ketemu kata-kata yang pas dalam bahasa awak]: Comment, disaient-ils, / "How then," asked the men Avec nos nacelles, / "With our small boat, Fuir les alguazils? / To escape the (Spanish) patrol?" ––Ramez, disaient-elles. / "Row," the women replied. Comment, disaient-ils, / "How then," asked the men, Oublier querelles, / "To set aside feuds, Misère et périls? / Misery and peril?" ––Dormez, disaient-elles. / "Sleep," the women replied. Comment, disaient-ils, / "How then," asked the men, Enchanter les belles, / "to charm fair maidens, Sans philtres subtils? / without magic potions?" ––Aimez, disaient-elles. / "Love," the women replied. -- Victor Hugo, Les Rayons et les Ombres [XXIII, July 18, 1838] Puisi pendek menyiratkan nasihat yang mirip pitutur Jawa yang dulu suka diajarkan bapakku. Secara ringkas merupakan jurus-jurus utama dalam hidup: (1) work hard (Row!), (2) forgive and forget (Sleep!) dan (3) kasih (Love!) "Row! ... Sleep! ... Love!" Happy Valentine's day For the young at heart, KM/ [sambil mengagumi senyumnya satu siocia] |
| Next > |
|---|

