|
Mogei: Swordman - bagian 1/3 |
|
|
Mogei: Swordman - bagian 1/3
Seorang pria pertengahan abad berdiri tegap tertepa angin kencang di puncak gunung Kun Lun. Pakaiannya yang serba hijau dan tampak sangat rapi dan bersih berkibar-kibar tertiup angin. Namun, pria itu tidak bergeming. Dia menatap lurus ke depan. Posisinya berdiri berada di tepi jurang. Dari tempatnya berdiri itu dia dapat melihat awan kabut di bawahnya sementara puncak-puncak gunung yang runcing di sekeliling gunung itu mencuat menembus lapisan awan. Tampak sangat indah sekali tetapi juga mematikan karena saat itu musim dingin. Seluruh puncak gunung tertutup salju. Hawa dingin yang membekukan darah menaungi puncak gunung. Terlihat di kumis dan jenggot pria itu yang berwarna abu-abu terdapat lapisan-lapisan es yang membeku. Tampak juga di sepasang alis matanya. Namun, nyata kalau pria tua itu tidak dalam keadaan mati membeku karena sinar matanya yang tajam berkilat-kilat. Di punggung pria itu terpanggul sebilah pedang yang sebagian besar tertutup salju, tapi di bagian-bagian yang tidak tertutup salju muncul kilatan cahaya keemasan. Pria tua itu bukan lain adalah seorang tokoh rimba persilatan yang dikenal dengan julukan si Pedang Kilat. Sedang namanya sendiri Buyung Jin. Pria itu masih berdarah bangsawan.
Tiba-tiba terdengar suara ketawa yang membahana. Kalau saja ada orang-orang rimba persilatan yang mendengar suara itu tentu akan langsung mati ketakutan. Bukan karena nadanya yang mengerikan tapi karena mereka mengenal siapa pemilik suara ketawa itu. Buyung Jin hanya mendengus. Tampak percikan pecahan es tersembur dari lubang hidungnya. Suara ketawa itu terdengar makin lama makin keras. Buyung Jin tahu siapa yang sedang menuju ke puncak gunung tempatnya berdiri. Seketika seluruh lapisan es di tubuhnya menguap. Sekejap kemudian berkelebat sesosok bayangan hitam yang tahu-tahu sudah berdiri di samping Buyung Jin.
“Jin-heng, apa kabar?” Sosok berpakaian serba hitam itu mengambil arah posisi sama dengan Buyung Jin. Dia berdiri di tepi jurang memandang ke depan. Usia orang itu juga tidak muda. Terlihat dari kumis dan jenggotnya yang hampir sama panjang dengan Buyung Jin, cuma beda warna. Kumis dan jenggotnya masih hitam pekat.
Si Pedang Kilat Buyung Jin tidak menjawab. Dia hanya mendengus tidak senang.
“Hui-suheng, bagaimana juga kabarmu?” Tanpa terlihat maupun terdengar apa-apa tiba-tiba di samping kiri Buyung Jin telah berdiri seseorang yang lain. Kini posisinya diapit oleh dua orang itu. Seorang yang baru muncul itu berpakaian seperti seorang sastrawan. Dia tampak lebih muda. Kumisnya tipis tapi panjang.
Sosok yang muncul lebih dulu dikenal dengan julukan Raja Pedang. Namanya Gak Hui. Sedang yang muncul belakangan si Naga Tujuh Pedang Yo Sin Han. Bersama-sama dengan Pedang Kilat Buyung Jin mereka bertiga adalah para tokoh yang sedang menjagoi rimba persilatan pada era itu.
“Han-sute, kau ikut datang?” Terdengar nada sinis dari kata-kata Gak Hui. Kedua jago pedang itu memang kakak-adik seperguruan tapi mereka tidak pernah akur. Mereka diangkat murid oleh guru mereka sejak dari kecil. Guru mereka yang adalah sepasang suami istri sekaligus menjadi orang tua angkat mereka. Suami istri itu mendidik mereka dengan penuh kasih sayang. Namun, ternyata bibit persaingan di antara mereka memang tidak terbendungkan. Akibatnya setelah mereka sama-sama telah menyelesaikan pelajaran dasar suami istri itu memisah mereka. Seorang mendapatkan didikan dan pelajaran lanjutan dari si suami dan yang seorang lagi dari si istri. Itu sebabnya sekalipun mereka kakak-adik seperguruan tapi ilmu mereka tidak sama.
"Hui-suheng,“ balas Yo Sin Han tidak kalah sinisnya. “Apa aku tidak boleh datang? Kenapa? Apa kau takut kukalahkan?”
Raja Pedang Gak Hui tertawa. “Kau pikir kau mampu? Ayolah, sekarang kita ada alasan untuk membuktikan siapa yang terbaik! Jin-heng, bagaimana? Apa tidak kita mulai sekarang saja?”
Pedang Kilat Buyung Jin melotot. Tatapannya masih tidak berubah. Dia seakan-akan tidak memandang sebelah mata terhadap kedua jago itu.
"Saudara berdua,“ kata Buyung Jin kemudian. “Kitab Pedang ada di sini. Baik kitab maupun gelar sebagai Jago Pedang Nomor Satu kita bertiga sudah saling sepakat. Siapa yang terbaik di antara kita dialah yang berhak atas keduanya.” Meskipun menahan dongkol tapi Buyung Jin tidak berani berlaku sembrono. Dia tahu siapa kedua jago itu. Meski sifat mereka terkadang masih kekanak-kanakan tapi ilmu mereka memang luar biasa. Dia bahkan tidak yakin bisa menang terhadap salah seorang di antara mereka.
“Jin-heng,” kata Raja Pedang Gak Hui. “Boleh kami melihat kitab itu sebentar?”
“Silakan!” Buyung Jin mengibaskan lengan bajunya yang menimbulkan serangkum hawa panas. Buyung Jin masih menghadap ke arah jurang. Dia mengibaskan lengan kanannya itu ke belakang. Dari lengan bajunya yang lebar melesat suatu benda yang langsung menghujam menembus dinding batu di belakangnya. Ajaibnya tidak ada lapisan salju yang sebelumnya menutupi dinding batu itu yang rontok ke bawah, tapi di tempat benda itu tertancap di sekeliling benda itu lapisan saljunya sudah lenyap berbentuk lingkaran.
Ternyata benda yang tertancap itu adalah sepasang bilah bambu sepanjang 30 cm. Pada masing-masing bilah bambu itu terdapat ukir-ukiran huruf yang sangat kecil tapi rapi. Dari dekat pun hanya tampak seperti selarik garis panjang. Masing-masing bilah bambu dipenuhi sekitar 49 garis panjang. Kitab pedang itu memang unik. Konon, hanya mereka yang menguasai tenaga dalam di atas rata-rata saja yang bisa melihat rangkaian huruf itu. Maka buat kaum awam atau yang tenaga dalamnya masih belum di atas rata-rata kitab pedang itu tidak ada gunanya. Namun, barangsiapa yang berhasil membaca kitab pedang itu dan mempelajarinya maka ilmunya akan tidak tertandingkan.
Terdengar suara Raja Pedang Gak Hui dan si Naga Tujuh Pedang memuji-muji.
Lalu terdengar suara berdesing. Buyung Jin telah mengeluarkan pedangnya. Pedang itu memancarkan sinar keemasan. Kemilaunya sangat indah. Tanpa diaba-aba sepasang jago yang mengapitnya telah lenyap dari tempat mereka berdiri. Buyung Jin membalikkan tubuhnya dan menghadapi sepasang jago itu di kiri kanannya. Kini mereka berdua telah berada jauh dari tempat mereka semula berdiri. Raja Pedang Gak Hui juga telah mengeluarkan pedangnya yang terbuat dari baja hitam. Sementara Yo Sin Han sesuai dengan julukannya si Naga Tujuh Pedang memiliki rangkaian tujuh pedang yang tertata membentuk kipas di punggungnya. Dia masih belum mengeluarkan sebatang pun. Akan tetapi, kedua lawannya tahu kalau ilmu pedangnya merupakan rangkaian dari pergerakan tujuh pedang yang saling susul menyusul yang akan berhenti bila lawannya sudah tewas.
Diam-diam Buyung Jin memperhatikan gerakan Gak Hui. Ilmu pedang lawannya yang satu ini terkenal sangat mantap meskipun tidak cepat. Jauh beda dengan adik seperguruannya yang ilmu pedangnya seakan-akan seperti air terjun yang tidak terbendungkan, ilmu pedang Gak Hui lebih bersifat pasif. Pedang baja hitamnya terkenal sangat berat. Bahkan pernah terdengar kisah dia sengaja mempertaruhkan kepada siapa saja yang berhasil mengangkat pedangnya itu akan diangkatnya menjadi murid, tapi bila tidak berhasil mereka harus memberinya makanan yang enak-enak. Gak Hui telah memainkan pertaruhannya itu selama bertahun-tahun dan selama itu tidak ada seorang pun yang berhasil. Bahkan saat dia mengubah persyaratannya yang mengijinkan boleh lebih dari satu orang.
Sekejap saja hawa dingin di puncak gunung itu menguap digantikan oleh hawa panas pembunuhan yang sangat tebal. Untuk memperebutkan gelar Jago Pedang Nomor Satu dan menguasai kitab pusaka itu ketiga tokoh rimba persilatan telah mengorbankan banyak sekali kepentingan-kepentingan pribadi mereka. Buyung Jin yang telah membina rumah tangganya selama puluhan tahun akhirnya dengan mengeraskan hati meninggalkan istrinya. Sepuluh tahunan yang lalu dia telah memutuskan diri untuk meninggalkan rimba persilatan. Dia mengubur Pedang Emasnya di sebuah jurang yang sangat sulit dijangkau orang biasa. Bersama istrinya yang memang bukan berasal dari kaum rimba persilatan Buyung Jin memutuskan untuk hidup tenang di desa dengan bertani. Mereka pun hidup bahagia. Namun, tak disangka-sangka suatu hari saat mereka menanam bibit di sawah sang istri secara tak sengaja menemukan sepasang bilah bambu tua yang seakan tidak lapuk dimakan usia. Bambu yang aneh itu disimpannya karena dia merasa suka dengan keunikannya. Istri Buyung Jin memang terkenal memiliki cita rasa seni yang tinggi. Bertahun-tahun kemudian tanpa diketahui oleh Buyung Jin sang istri telah menyimpan sebuah pusaka yang telah menjadi legenda perebutan para tokoh rimba persilatan di jaman-jaman terdahulu.
Tempat Buyung Jin tinggal letaknya tidak jauh dari tempat Yo Sin Han berdiam bersama sepasang muridnya. Murid Yo Sin Han juga bertugas mengatur segala keperluan gurunya sehari-hari, termasuk memasak. Tiap hari pasar yang biasa diadakan sebulan sekali sang murid pasti bergantian turun gunung untuk membeli kebutuhan-kebutuhan pokok mereka untuk persediaan. Namun, entah karena memang berjodoh atau hanya kebetulan saja suatu hari Yo Sin Han memutuskan untuk berbelanja sendiri karena dia merasa jenuh di atas gunung dan ingin sedikit menikmati keramaian. Kebetulan saat itu musim panen. Istri Buyung Jin pun menjual hasil panennya di pasar itu. Karena sudah menganggap biasa dengan sepasang bilah bambunya sang istri memasangkan keduanya ke keranjang yang dibawanya. Saat akan membeli beras Yo Sin Han pun melihat sepasang bilah bambu itu dan dengan sepasang matanya yang tajam dia dapat melihat ada sesuatu pada bilah-bilah bambu itu. Yo Sin Han bukan seorang yang pandai bergaul. Itu sebabnya dia memutuskan untuk berdiam di atas gunung yang sepi. Saat melihat sepasang bilah bambu itu di dalam hatinya berkecamuk rasa penasaran. Namun, dia tidak mau mencurinya meskipun dengan ilmunya yang tinggi dia bisa mengambilnya tanpa terlihat oleh siapa pun. Yo Sin Han pun tidak berani memintanya. Dia tidak biasa bergaul apalagi dengan kaum wanita. Dia merasa jengah. Padahal sekiranya dia mau meminta lihat barang sekejap saja pasti istri Buyung Jin malah akan memberikannya sekaligus. Tetapi, dasar nasib memang belum berjodoh Yo Sin Han hanya bisa berdiam.
Namun, Yo Sin Han tidak putus harapan. Dia membututi wanita yang tidak diketahuinya sebagai istri Buyung Jin itu pulang. Apa lacur di tengah jalan dia bertemu dengan Buyung Jin sendiri. Maka keduanya pun langsung ribut. Buyung Jin mencurigai Yo Sin Han ada maksud jelek dengan istrinya. Sementara Yo Sin Han yang tidak tahu kalau Buyung Jin tidak tahu menahu soal sepasang bilah bambu itu langsung melabraknya. Karena memang hanya bermaksud untuk berbelanja sekaligus pelesir Yo Sin Han tidak membawa ketujuh pedangnya. Baik Yo Sin Han maupun Buyung Jin hanya pernah mendengar kehebatan ilmu masing-masing, tapi mereka belum pernah bertarung sebelumnya. Karena masing-masing merasa kurang percaya diri maka yang mereka lakukan hanya tarik ulur tenaga saja. Sampai akhirnya dari ucapan-ucapan Yo Sin Han, Buyung Jin mengetahui ada sesuatu yang selama ini terlewatkan oleh perhatiannya. Maka dengan mengandalkan nama besarnya Buyung Jin mempertaruhkan bilah bambu itu untuk memperebutkan gelar Jago Pedang Nomor Satu.
“Jin-heng,” kata Raja Pedang Gak Hui memecah keheningan. “Kau tahu sudah lama sekali aku ingin meninggalkan rimba persilatan ini dan hidup menjadi orang biasa mencontoh dirimu. Tapi mendengar kau memutuskan diri untuk kembali ke rimba persilatan bahkan dengan membawa bilah bambu pusaka itu aku jadi berpikir ulang.”
“Apa yang kau pikirkan?” “Pedang adalah pedang. Tidak lebih tidak kurang.” “Aku tidak mengerti maksudmu.” “Jin-heng, kau jangan terlalu merendah.”
Gak Hui telah malang melintang di rimba persilatan dengan pedang Baja Hitamnya yang terkenal. Sejak Buyung Jin mengubur Pedang Emasnya, Gak Hui lah yang terkenal sebagai Jago Pedang Nomor Satu. Yo Sin Han satu-satunya orang yang bisa menandinginya lebih suka bertapa di gunung menimba ilmu. Gak Hui pun terkenal sebagai Raja Pedang karena dengan tidak adanya kedua jago itu tidak ada seorang pendekar pun yang bisa mengalahkannya. Hari terus berlalu, Gak Hui pun menjadi bosan. Tidak ada seorang jago pun yang bisa menandinginya barang satu jurus saja. Dia pun lalu memikirkan untuk menggantung pedangnya dan hidup sebagai seorang biasa saja. Kebetulan dia ahli membuat pedang. Dia hendak menjadi seorang pandai besi di kotaraja. Gak Hui pun menjual segala miliknya untuk kemudian uangnya digunakannya untuk melakukan perjalanan ke kotaraja serta modal untuk mendirikan usahanya. Dia pun melakukan perjalanan sejauh 10 hari dengan menunggang kuda. Namun, pada persinggahannya yang terakhir di sebuah kota kecil dekat kotaraja dia mendengar kabar angin yang mengatakan soal kembalinya Pedang Kilat Buyung Jin ke rimba persilatan yang menantang jago-jago pedang di seantero jagad untuk memperebutkan gelar Jago Pedang Nomor Satu. Seketika meluaplah hawa panas di tubuh Gak Hui. Dia pun meninggalkan kuda dan semua barang bawaannya kecuali Pedang Baja Hitamnya. Dia berlari jauh lebih cepat dibandingkan bila dia menunggang kuda.
Kini ketiga jago pedang ternama dan belum pernah beradu ilmu pedang sebelumnya telah saling berhadapan untuk menentukan siapa yang terbaik di antara mereka. Pedang tidak bermata, begitu ungkapan kaum rimba persilatan. Begitu pula yang akan terjadi di puncak gunung Kun Lun itu. Mereka akan bertarung mempertaruhkan nyawa demi keharuman nama mereka dan demi rasa penasaran mereka terhadap sepasang bilah bambu yang konon dikabarkan memuat ilmu kepandaian pedang yang luar biasa tanpa tandingan. Sebenarnya ketiga jago itu sudah bosan dengan ilmu pedang karena mereka sudah tidak terkalahkan. Saat itu mereka hanya ingin memuaskan rasa penasaran mereka atas ilmu pedang itu. Mereka berpikir bila setelah mereka membaca dan paham maka mereka telah mengalahkan si pembuat ilmu pedang. |