| Bing - Lian Kiam Hong In Bab II |
|
|
Lian Kiam Hong In - bab IIBhok Lin tidak berdiam lama bersama kakak dan iparnya itu, dengan lekas ia mengundurkan dari, maka itu Bhok Yan dan Keng Sim kembali berada berduaan. Di antara sinar api, mereka saling pandang. Setelah tujuh tahun hidup bersama, rukun dan manis, sekarang datang saatnya untuk berpisahan, walaupun itu bukanlah perpisahan untuk selama-lamanya, meskipun benar sang suami mungkin akan menerjang bahaya..." Mengantar piauw bukannya suatu pekerjaan ringan. Maka itu, mereka berpikir masing-masing. Beberapa saat pula lewat ketika Bhok Yan berkata dengan perlahan: "Kau hendak membikin perjalanan, baiklah. Orang dulu pun membilang, membaca kitab selaksa jilid tak sama dengan membuat perjalanan selaksa lie. Aku harap sedikitnya kau akan memperoleh bahan untuk membuat syair!" "Adik Yan, sungguh kau baik sekali," kata Keng Sim dengan terharu. "Bagaimana aku beruntung mempunyai isteri semacam kau!" Isteri itu tertawa dan berkata: "Ya, sekarang ini mulutmu manis sekali, aku kuatir, setelah berada di luaran, kau nanti bertemu entah Liehiap siapa..." "Ah, adik Yan!" Keng Sim memotong. "Kenapa kau mengucap begini. Apakah kau tidak percaya aku?..." Bhok Yan mengulur tangannya membekap mulut suaminya itu. "Aku cuma main-main," katanya. "Mustahil aku tidak percaya kau? Nah, sekarang pergilah kau tidur, aku akan mempersiapkan segala keperluanmu." Suami itu mengangguk. "Biarlah aku pergi berlatih samedhi," kata dia. "Hendak aku lihat apakah aku telah tidak menterlantarkan latihanku..." Isteri itu mengangguk, walaupun sebenarnya, hatinya kurang tenteram.![]() Keng Sim pergi ke kamar latihannya, di sana ia duduk bersamedhi, seperti isterinya, hatinya pun berpikir. Mereka bakal berpisahan, entah untuk berapa lama, dari itu, sulit untuknya mententeramkan hatinya. Ia juga memikirkan soal perampasan hadiah untuk kaisar itu. "Hadiah pelbagai propinsi kena dirampas di tengah jalan, benarlah ini ada soal yang menggemparkan seluruh negeri," demikian pikirnya. "Apakah Ie Sin Tjoe dan Yap Seng Lim ambil bagian dalam urusan ini? Dan bagaimana dengan guruku, yang tidak ketahuan di mana adanya? Apakah soehoe pun ada sangkut pautnya? Pada tiga puluh tahun dulu, soehoe pernah mencuri pedang di istana kaisar..." Dengan memikirkan Sin Tjoe, koenma ini jadi ngelamun. "Entah Sin Tjoe masih memikirkan aku atau tidak..." demikian otaknya kacau. Karena ini, latihan jadi terganggu. Sudah tujuh tahun ia seperti terkeram di dalam koenmahoe, tidak heran kalau ia seperti putus hubungannya dengan dunia luar. Maka itu sekarang yang ia bakal keluar pula, hatinya ruwet berbareng bergoncang, bergoncang karena kegembiraan. Ia mengharap nanti dapat bertemu sama Sin Tjoe..." Tengah ia berpikir banyak itu, Keng Sim mendapat dengar suara berkelisik di atas genteng, di atas wuwungan. "Inilah orang yang membuat perjalanan malam," pikirnya. "Ah, ia berkepandaian tak rendah... Siapakah ia? Mau apa ia datang ke mari?" Kaget dan heran, Keng Sim bersedia untuk berbangkit. Hendak ia pergi keluar, untuk melihat orang itu. Adakah dia orang jahat atau orang yang dikenal? Demikian ia berpikir terus. Di saat menantu hertog ini hendak berlompat ke luar jendela, tiba-tiba ia mendengar satu suara sambaran senjata rahasia, disusul sama senjata rahasianya sendiri, yang mengasi lihat cahaya gemirlap, lalu disusul pula dengan suaranya senjata itu nancap di meja! Segera Keng Sim maju untuk mencabut senjata itu, ialah sebuah pisau belati, yang ujungnya diberikutkan sehelai kertas. "Siapakah main-main sama aku?" ia berpikir. Inilah kebiasaan orang kangouw mengirim surat dengan perantaraan pisau belati... Tanpa memperhatikan dulu kertas itu, Keng Sim menjejak dengan kakinya, untuk mencelat ke jendela, guna berlompat keluar, maksudnya ialah buat melihat, siapa orang itu. Ketika ia tiba di luar, ia hanya dapat melihat suatu bayangan tubuh, yang melesat melintasi gunung-gunungan. Samar-samar ia menampak punggungnya seorang perempuan, mungkin seorang wanita muda. "Sin Tjoe!" demikian hendak ia berseru atau di saat yang tepat, ia dapat membatalkan niatnya memanggil itu. Ia mendapat kenyataan, bayangan itu bertubuh kecil dan kurus, tak miripnya dengan potongan tubuhnya Nona Ie. "Ah, benar-benar aku gila!" sejenak kemudian ia berpikir pula. Rupanya karena aku sangat memikirkan dia, lantas aku menduga sembarangan... "Tetapi, siapakah dia? Apa perlunya dia mengirim surat secara begini padaku?" ia berpikir lagi, menerka-nerka itu surat dan pisaunya. Ia mengingat-ingat wanita, yang mirip dengan bayangan itu, tetapi ia tidak berhasil mengingatnya siapa juga. Karena ini, ia lantas lari ke arah gunung-gunung itu, untuk menyusul. "Aku mesti lewati dia," pikirnya lebih jauh selagi ia mendekati. Ia hendak pegat orang itu. Atau mendadak ia mendengar: "Keng Sim! Keng Sim!" Itulah suara panggilannya Bhok Yan, sang isteri. Suara datangnya dari atas lauwteng dan agaknya puteri kokkong itu dalam keadaan kaget. "Ya!" ia menyahuti, lekas dan keras. Justeru itu bayangan yang ia kejar itu terlihat mencelat naik ke atas batu Thayouw tjio di sebelah depan, gerakannya sangat lincah, lantas dia naik di tembok dari mana terdengar suara tertawanya, tertawa geli. "Heran," kata Keng Sim di dalam hatinya. Sekarang ia dapat melihat terlebih tegas. Paling banyak dia baru berumur lima belas tahun, kenapa ilmu ringan tubuhnya sudah begini mahir?... Baru beberapa tahun aku menyekap diri, tidak tahunya dalam dunia kangouw telah muncul orang-orang baru..." Ketika itu bayangan itu telah lenyap, maka Keng Sim, yang tidak mengejar lebih jauh, bahkan ia pun tidak lantas menghampirkan isterinya, lantas periksa pisau belati di tangannya, untuk melihat suratnya. Di kertas itu ada kedapatan enam baris huruf. Dengan suara tak terdengar, Keng Sim membaca: "Harimau mengaung, macan tutul menderum Burung hong berbunyi di lembah sunyi Mulut harimau berbelas kasihan Macan tutul keramat mendeliki mata Kalau lancang memasuki dunia Sungai Telaga Menoleh kembali itu artinya bahagia..." Dua baris yang paling belakang itu terang berarti nasihat untuk Keng Sim, supaya ia jangan sembarangan memasuki dunia Sungai Telaga, dunia kangouw, atau lebih tegas lagi, ia dilarang mengantar piauw yang berupa hadiah bingkisan untuk kaisar. Hanya tentang dua baris paling atas, di mana ada disebut-sebut harimau, macan tutul dan burung hong, entahlah itu diartikan tiga orang atau bukan. Dan, apa artinya dua baris yang di tengah itu? Kenapa disebut "mulut harimau berbelas kasihan" dan "Macan tutul mendeliki mata?" Karena mesti berpikir, Keng Sim berdiri diam, hingga ia tidak segera pergi kepada isterinya. Di lain pihak, Bhok Yan sudah lantas tiba padanya. "Keng Sim, ada terjadi apakah?" tanya isteri itu, lagu suaranya menandakan hatinya berkuatir. "Tidak apa-apa," sang suami menyahut sambil bersenyum. Surat dan pisau belati itu ia telah lantas simpan. "Habis bersamedhi, aku mencoba berlatih berlari pesat." Seingatnya belum pernah Keng Sim mendustai isterinya, inilah yang pertama kali dan ia lakukannya pun dengan terpaksa. Kalau Bhok Yan ketahui tentang adanya si orang-orang jalan malam, tidak banyak sedikit mesti isteri itu berkuatir, bahkan bisa terjadi, ia bakal dicegah keberangkatannya. Walaupun ada itu "nasihat," ia tidak memikir untuk membatalkan niatnya. Mendengar jawaban suaminya, isteri yang manis itu tertawa. "Kau tidak mengabaikan ilmumu ringan tubuh, aku sebaliknya, hatiku jadi semakin kecil!" katanya. "Maka itu ingatlah olehmu, nanti di waktu kau mengantar bingkisan ke kota raja, umpama kata di tengah jalan kau bertemu orang jahat, jikalau jumlah mereka lebih besar, jangan kau lawan mereka itu, lebih baik barang hilang daripada kau menempuh bahaya." "Itulah urusan kaum kangouw, adikku," sahut Keng Sim menghibur. "Aku tahu apa jang aku harus lakukan, kau baiklah jangan kuatir, kau tetapkan saja hatimu." Bhok Yan percaya suaminya ini, maka ia tidak membilang apa-apa lagi hanya ia ajak sang suami pulang. Besoknya pagi, Keng Sim pergi menemui Bhok Kokkong, mentuanya. Ia sudah menduga, ada kemungkinan ia mesti omong banyak, untuk membujuki mentua itu. Di luar dugaannya, ia menghadapi kejadian yang melegakan hatinya. Dengan segala senang hati, mentuanya itu memberikan perkenannya. Nyatanya ialah tadi pagi-pagi, Bhok Lin sudah menghadap ayahnya itu, untuk membicarakan urusan mengantar bingkisan itu. Ia minta supaya tjiehoe-nya, yaitu Keng Sim, diijinkan pergi melindungi, dengan ia turut bersama. Memang mulanya Bhok Kokkong berkeberatan, tetapi setelah ia ingat, bingkisan toh mesti di kirim, ia tidak menentangi lagi puteranya itu. Ia tahu Keng Sim gagah, karena mana, ia mendapat serupa harapan. Bagaimana bagus andaikata Keng Sim berhasil tiba di kota raja dengan tidak kurang suatu apa. Tentu raja melihatnya dan akan menghargai menantunya itu. Pula, setelah puteranya mulai meningkat usianya, pantaslah putera ini membuat perjalanan, guna mencari pengalaman. Bhok Lin adalah putera satu-satunya, yang di belakang hari bakal mewariskan kedudukannya sebagai Kokkong. Sudah selayaknya saja apabila sang putera dapat menghadap kaisar. Lain ketika baik sebagai ini sukar dicarinya. Satu hal lain lagi ialah Kokkong ini tidak menguatirkan keselamatan puteranya itu. Bukankah, sebegitu jauh diketahui, penjahat cuma merampas bingkisan, tidak mengganggu jiwa? Ada baiknya sang putera bisa tiba di kota raja. Syukur kalau bingkisan sampai dengan selamat, kalau tidak, tidak apa hilang barang berharga, ia toh tidak bakal dipersalahkan. Bukankah ia sudah mengirim bingkisan? Ini saja sudah bukti kuat yang ia menjunjung dan menghargai junjungannya itu. Oleh karena ia berpikir begini, Bhok Kokkong jadi bersependapat dengan puterinya, bingkisan boleh hilang asal diri selamat. Demikian, setelah memberikan ijinnya, Bhok Kokkong lantas memberi pesan dan nasihatnya pada mantunya. Ia bilang bahwa bingkisan sudah disiapkan rapi, dari itu besok dapat mantu dan puteranya itu mulai berangkat. Keng Sim girang bukan main, habis mengucap terima kasih, ia lantas mengundurkan diri, katanya untuk siap sedia. Di luar ia bertemu Bhok Lin. Sang ipar sudah lantas menarik ia ke samping. "Tjiehoe, tadi malam aku menemui kejadian yang aneh!" demikian kata-katanya yang pertama. Dan tanpa menantikan orang menanya jelas, ia merogo ke sakunya akan menarik keluar sebatang pisau belati pada mana ada terlampir sehelai kertas. Ia angsurkan itu. Keng Sim menyambuti. Ia tidak usah memeriksa lama akan mendapatkan pisau itu sama dengan pisau belati yang semalam ia terima. "Kiranya tadi malam kau bertemu seorang nona muda belia yang meninggalkan kau pisau belati ini berikut surat," katanya. Bhok Lin terkejut. "Apa, tjiehoe?" tanyanya. "Kenapa kau ketahui itu? Benarkah nona itu seorang yang masih muda belia? Cantikkah dia?" Memang, pengalaman putera Kokkong itu tadi malam sama dengan pengalamannya Keng Sim, ia pun sudah lari-lari keluar untuk mengejar, tetapi karena ia kalah lincah, tidak dapat ia menyandak, ia melainkan melihat punggung orang, bayangan orang itu lenyap di tempat gelap, hingga tak dapat ia mengenali, orang pria atau wanita. "Cantik, sungguh cantik!" menyahut Keng Sim, untuk menggoda. Agaknya Bhok Lin girang sekali. "Ia pun meninggalkan syair" katanya pula. "Aku tahu," kata Keng Sim, memotong. "Tidak usah kau keluarkan, aku sudah tahu bunyinya." Dan ia membacakan syair itu, yang ia ingat di luar kepala. Putera Kokkong itu tercengang. "Ha!" seru ia sesaat kemudian. "Kau pun tentunya menerima pisau dan surat sama seperti aku!" Keng Sim mengangguk. "Ya. Dan ia menasihati aku untuk jangan membuat perjalanan mengantar bingkisan itu," ia menerangkan. "Adik Lin, kau takut atau tidak?" "Sungguh menarik! Sungguh menarik!" berseru orang yang ditanya, yang tidak menjawab apa yang ditanyakan. "Apakah yang menarik hati?" menanya Keng Sim, tertawa. Ia menduga orang tergila-gila si nona tukang keluar malam itu... "Sebab si perampas piauw hadiah untuk kaisar itu, suatu hal yang menggemparkan dunia, adalah seorang nona!" sahut si anak muda. "Atau, kalau toh si perampas bukannya dia, dia mesti salah satu orang yang turut ambil bagian! Tidakkah menarik yang satu nona dapat merobohkan orang-orang kosen pilihan dari pelbagai propinsi itu?" Mendengar begitu, Keng Sim tertawa. "Ha, kau lupa satu hal, engkoe yang baik!" ia berkata. "Kau lupa bahwa semua perampasan telah terjadi di dalam wilayah propinsi Hoopak! Umpama benar nona itu turut di dalam perampasan itu, bagaimana dia dapat dengan begini lekas tiba di Inlam sini untuk mengirimkan nasihatnya itu yang berupa pisau belati dan syair? Lagi pula, sebenarnya hal itu tidak perlu sama sekali." Bhok Lin berdiam. Ia berpikir. "Habis," katanya kemudian, "apa artinya ia mengirim surat menasihati kita jangan mengantar piauw itu?" "Aku tidak dapat berlaku sebagai kau," ada jawabannya sang tjiehoe, "kau main duga-duga saja. Aku tidak dapat membade pikiran orang..." Mukanya putera Kokkong itu menjadi merah. Tapi tidak lama, ia tertawa pula. "Sungguh aneh!" katanya. "Belum lagi kita berangkat, kita sudah menghadapi kejadian aneh ini, maka itu di belakang hari, sesudah merantau, entah kita bakal menemui berapa banyak orang aneh dan urusan yang tidak-tidak! Walaupun demikian, aku percaya, seandai kita tidak dapat mengantar barang sampai di kota raja, sedikitnya mata kita bakal terbuka! Tidakkah itu akan jadi sangat menarik hati?" Sifatnya putera Kokkong ini beda dengan sifat kakaknya, kalau sang kakak puas akan kedudukannya yang sekarang ini, cukup segala apa, penghidupan tak kekurangan, derajat tinggi, sang adik bercita-cita, ia dapat berchayal, tak suka diam saja, bahkan ia ketarik sama segala apa yang aneh. Ini pun sebabnya kenapa sebagai siauwkongtia, ialah Kokkong cilik, ia minta ayahnya mengijinkan ia pergi ke kota raja, bahkan ia tak jerikan kisikan pisau belati dan syair dari nona yang tidak dikenal itu. Keng Sim tidak dapat menemani lama-lama iparnya itu, maka sampai di situ mereka berpisahan. Ia balik dengan lekas kepada isterinya, untuk menyampaikan kabar girang yang Kokkong sudah meluluskan permintaannya, guna bersiap terlebih jauh. Juga Bhok Lin perlu berkemas. Besoknya, Bhok Kokkong benar telah menyiapkan bingkisannya untuk raja, ialah sebuah giokdjieie, dua belas butir mutiara yabengtjoe serta sepotong batu marmer yang atasnya ada lukisannya yang wajar, seperti juga ukirannya orang pandai. Batu semacam ini, dalam beberapa ratus, tak ada sebuah juga, dari itu dapat dimengarti harganya yang tak terkirakan, sebagaimana harga giokdjieie dan mutiara itu pun mirip dengan harganya sebuah kota... Untuk berlaku hati-hati, Bhok Kokkong titahkan rombongan pengantar bingkisan ini bukan berangkat seperti kantor piauwkiok lagi mengantar piauw yang berharga, hanya Keng Sim dan Bhok Lin, puteranya itu, diperintah menyamar sebagai mahasiswa yang hendak pergi ke kota raja untuk turut dalam ujian ilmu surat. Dua guru silat, atau pahlawan, dimestikan menyamar sebagai budak atau kacungnya dua mahasiswa itu, dan mereka mesti memikul peti yang termuatkan pakaian dan buku. Ketiga barang berharga itu dicampur di dalam peti buku. Kedua pahlawan itu ialah Thio Po dan Yo Gie, mereka tidak liehay tetapi luas pengetahuannya mengenai dunia kangouw. Demikianlah Keng Sim berempat pamitan dari Kokkong semua, untuk meninggalkan kota Koenbeng, guna memulai dengan perjalanannya ke kota raja. Jalanan yang diambil bukan jalanan yang memasuki propinsi Soetjoan terus ke Siamsay, terus lagi ke Hoolam, akan tiba di Hoopak hanya jalanan lain, ialah jalanan dari propinsi Koeitjioe ke Kwiesay dan Kwietang, sepanjang pesisir laut, sampai di propinsi Hoopak. Jalanan yang diambil itu ada banyak pegunungannya tetapi di situ telah disiapkan sesuatu untuk menggampangi perjalanan. Di sepanjang jalan Bhok Lin nampak gembira sekali. Ia tidak kenal takut, bahkan ia bersedia andaikata ada orang jahat yang hendak memegat, untuk merampas bingkisan di bawah perlindungannya itu. Hari lewat hari, ia tetap bergembira. Selama sepuluh hari, jangan kata begal besar, begal kecil pun tak ada di tengah jalan itu. Setelah ini, selagi kedua pahlawan girang bukan main, Bhok Lin sebaliknya menjadi lenyap kegembiraannya... Pada suatu hari tibalah mereka di tapal batas Inlam dan Koeitjioe, di tempat yang disebut kecamatan Thianngo. Di situ Yo Gie, yang menghela napas lega, berkata: "Untuk Koeitjioe, jalanan di sini paling sukar, banyak orang jahatnya. Di sini termasuk wilayah suku bangsa Biauw. Syukur sampai sebegitu jauh kita tidak nampak halangan apa-apa. Selewatnya Kwiesay, kita akan sampai di Kwietang. Di Kwietang ini, gubernur jenderalnya adalah sahabat kongtia. Di harian kita mau berangkat, gubernur jenderal itu telah mengasi warta pada kongtia bahwa bingkisan dari Koeitjioe dan Kwiesay sudah sampai di Kwietjioe dan tengah menantikan rombongan dari Inlam ini, untuk nanti dari Kwietjioe mereka berangkat bersama menuju lebih jauh ke kota raja. Kitalah yang diminta suka berangkat bersama-sama. Dari itu, tinggal sedikit lagi, maka ke empat rombongan akan bertemu dan berkumpul. Dengan jalan bersama, kita tak usah takuti lagi segala orang jahat." "Fui!" Bhok Ling mengasi dengar suaranya apabila ia telah mendengar perkataannya pahlawan itu. "Kenapa kamu bernyali kecil sekali? Kenapa kamu mau mengharapi bantuan tenaga lain orang?" "Oh, siauwkongtia," kata Thio Po, tertawa. "Untuk kami, kami cuma mengharapi barang sampai di kota raja dengan tidak kurang suatu apa, dengan begitu kau bakal jadi si Enghiong kecil. Selama di dalam perjalanan, kami minta dengan sangat janganlah Siauwkongtia membawa tingkah temberang..." Anak muda itu lagi tidak gembira. Ia tidak mau melayani bicara. Maka mereka berjalan terus. Di waktu magrib, mereka sudah mendekati kota kecamatan tinggal kira-kira enam puluh lie lebih. Kedua pahlawan mengusulkan untuk singgah, supaya mereka tak usah jalan malam. Usul itu diterima baik. Begitulah mereka mondok di sebuah dusun di situ di mana ada pondokan dengan tiga kamar atas, kamar yang satu sudah ada penyewanya. Bhok Lin mengajaki Keng Sim mengambil sebuah kamar, sebuah kamar lagi buat kedua pahlawan, tetapi mereka ini menyamar sebagai budak, mereka pun ingin leluasa menjagai piauw, mereka mengalah, dari itu mereka minta sebuah kamar bawah saja. Habis bersantap sore, orang hendak lantas beristirahat. Justeru itu, di luar terdengar berisiknya suara kuda meringkik dan orang bicara, kemudian terlihat masuknya serombongan orang yang membawa bendera dari kantor soenboe propinsi Koeitjioe. Mereka itu hendak menumpang bermalam, jumlah mereka belasan. Orang yang menjadi kepala ialah seorang Biauw asli, tubuhnya tinggi dan besar, dandanannya ialah seragam militer kelas empat. Kelihatannya ia keren dan garang. Begitulah setibanya di dalam, ia mengasi dengar suaranya yang nyaring: "Pemilik pondokan, lekas bersihkan kamar atas untuk kami beramai!" Pemilik pondokan muncul dengan lantas, terus dia menekuk lututnya. "Kamar kami cuma tiga, dua sudah ada yang isi, tinggal yang satu lagi," ia berkata, menerangkan. "Hamba mohon Taydjin suka maklum saja." Pembesar Biauw itu benar-benar garang. "Perduli apa aku dengan tetamu-tetamu itu!" bentaknya, "Suruh mereka pergi!" "Hebat ini pembesar cilik!" kata Bhok Lin. Keng Sim tidak membilang apa-apa, hanya ia mengintai di sela pintu. Ia terkejut setelah ia melihat si pembesar bangsa Biauw itu, sebab ia kenali orang adalah Poan Thian Lo murid kepala dari Tjie Hee Toodjin. Ia tahu dia gagah, sedang pada belasan tahun yang lalu bahkan Yang Tjong Hay, adik seperguruannya, terhitung satu di antara soetay kiamkek, empat ahli silat pedang yang terbesar, yang namanya sama kesohornya seperti nama Thio Tan Hong, Ouw Bong Hoe dan Tjio Keng To. Sebagai kakak seperguruan, orang bilang, dia lebih liehay daripada Yang Tjong Hay. Ia pernah ketemu Poan Thian Lo ini di gunung Tjiat Hee Nia di Hangtjioe, ketika dia membantui Yang Tjong Hay dan rombongannya hendak menangkap Yap Seng Lim, itu waktu dia telah dua kali digaplok Siauw Houw Tjoe, siapa berbuat begitu atas titahnya Thio Tan Hong. Tentu sekali, Poan Thian Lo sebaliknya tidak mengenali ianya. Melihat murid Tjie Hee ini, Keng Sim jadi heran sekali. "Kenapa jahanam ini memangku pangkat militer?" ia tanya dirinya sendiri. "Dengan mengandali pengaruh adik seperguruannya, dia dapat menjadi pahlawan kelas satu di dalam istana, kenapa sekarang dia lebih suka jadi opsir kelas empat, menjadi orang sebawahan di kantor soenboe di Koeitjioe?" Di belakang Poan Thian Lo ada seorang yang romannya luar biasa, macamnya seperti orang asing akan tetapi dandanannya seperti orang Biauw, sedang di kedua lengannya ada digantungi lima buah kelenengan perak, selagi dia berjalan, kelenengan itu berbunyi memperdengarkan suaranya. "Dialah tentu Bong Goan Tjoe, adik seperguruan dari Poan Thian Lo," kata Keng Sim dalam hatinya. Ia telah mendengar dari Sin Tjoe halnya Siauw Houw Tjoe di wilayah orang Biauw ditipu hingga menikah sebab muridnya Tjie Hee Toodjin ingin mempelajari ilmu yoga dari bocah itu. Bong Goan Tjoe ini ber-ibu orang Biauw dan berbapak orang asing, maka juga demikian macamnya dan dandanannya. Di belakang Bong Goan Tjoe ada dua opsir kelas tujuh, sebagaimana ternyata dari seragam mereka. Mereka ini masing-masing memondong sebuah peti besi ukuran sekaki persegi, rupanya peti itu berat sekali, sebab jalannya mereka seperti setindak demi setindak. Keng Sim lantas menduga, isinya peti mesti logam sebangsa emas dan jumlahnya banyak. "Dia berpangkat rendah tetapi tugasnya pasti sama dengan tugas kita," kata si anak muda kepada Bhok Lin. Ia bicara perlahan, sambil tertawa. Putera Kokkong itu tidak mengarti maksud orang. "Siapa sejalan dengannya?" katanya. "Apakah kau artikan mereka pun hendak pergi ke kota raja?" Keng Sim tertawa, ia tidak menyahuti. Ia lebih memperhatikan suasana di luar. Ia ingat pada kejadian sepuluh tahun dulu ketika Tjie Hee Toodjin dan kawan-kawannya pergi ke Tjhongsan di Tali di mana dia hendak mengadu pedang dengan Hian Kie Itsoe tetapi dia dikalahkan murid-muridnya Hian Kie, sedang setahun kemudian, Yang Tjong Hay, kena dipecundangi Hok Thian Touw, ahli pedang dari Thiansan, hingga Tjong Hay kehilangan juga pedangnya, karena mana saking malu orang she Yang ini meletaki jabatannya sebagai tjongkoan istana kaisar dan ikut guru dan kakak seperguruannya pulang ke gunungnya untuk belajar lebih jauh. Adalah sekarang, setelah lewat beberapa tahun, mereka itu mulai bergerak pula. Kebetulan sekali soenboe dari Koeitjioe hendak mengantar bingkisan untuk kaisar dan lagi mencari orang kosen sebagai pengantarnya. Tjong Hay ketahui hal itu, tetapi kesehatannya belum pulih, maka ia ajukan Poan Thian Lo. Poan Thian Lo ada orang Biauw, orang Biauw biasanya tidak suka memangku pangkat, tetapi Thian Lo beda dari kebanyakan orang bangsanya itu, sudah kurang pikir, ia pun ingin sekali menjabat pangkat, tidak heran, dengan datangnya ini saat baik, ia lantas terima usulnya Tjong Hay, hingga kejadian ia bekerja pada soenboe. Sebagai permulaan, ia dikasi kedudukan tingkat ke empat. Ia percaya, dengan kepandaiannya itu, ia bakal tiba dengan selamat di kota raja bersama harta yang berada di bawah perlindungannya itu. Ia telah membayangi, bagaimana namanya jadi kesohor setibanya ia di kota raja, bagaimana ia akan naik pangkat. Untuk kepergiannya ini, ia ajak Bong Goan Tjoe bersama. Hanya, dasar orang kurang pikir, di sepanjang jalan dia berlaku temberang. Demikian sudah terjadi, di tempat penginapan ini dia bersikap bengis terhadap pemilik pondokan. "Aku tidak perduli mereka siapa!" katanya keren. "Suruh mereka pergi!" "Tetapi, Taydjin," kata tuan rumah sambil berlutut dan mengangguk-angguk, suaranya pun menggetar, "bagi kami pemilik pondokan, tetamu ada bagaikan ayah dan ibu kami, yang memberi kami makan dan pakai. Ini... ini..." "Hm!" bersuara Poan Thian Lo, yang tidak perdulikan keberatan orang, bahkan kakinya lantas melayang kepada tuan rumah itu. Dia pun berseru: "Anak kamu boleh turun tangan sendiri!" Bhok Lin mendongkol sekali. Justeru itu, pintu kamarnya menjeblak dan dua orang serdadu nerobos masuk. Ia menjadi gusar bukan main. Ia menyambuti mereka, setelah mencekal, ia lemparkan mereka ke luar kamar! Bong Goan Tjoe, yang mengikuti kedua serdadu itu, mendapat lihat mereka dilemparkan terpelanting, ia jadi murka. Lantas ia lompat maju. Tapi ia segera menjadi heran. Sebab di depannya ia melihat seorang muda belia yang cakap romannya, yang dandan sebagai anak sekolah, melainkan wajah orang nampak keren. "Apakah di sini orang dapat main gila! Mana wet negara?" demikian suara si anak muda, ialah Bhok Lin, habis dia melontarkan dua serdadu itu. Sebagai siauwkongtia, hertog cilik, dia mempunyai juga keangkarannya seorang pangeran. Bong Goan Tjoe tercengang. Tapi ia berada di depan orang-orangnya, ia malu kalau ia tidak beraksi terus. Ia pun sudah biasa berlaku galak dan garang. Maka ia kata dengan tertawa dingin: "Di sini wet negara —— padaku!" Sambil berkata, ia menggeraki kedua tangannya, diulur ke arah si anak muda, untuk menyambar anak muda itu. Bhok Lin berontak untuk meloloskan dirinya. Ia menggunai tipu silat "Melepaskan bunga, meloloskan pakaian perang." Ia pernah belajar silat dari Tan Hong, ilmu silatnya itu tidak sembarang, tetapi dibanding sama Bong Goan Tjoe, ia masih kalah jauh. Maka itu, tak dapat ia meronta meloloskan dirinya. Cekalan lawan kuat bagaikan jepitan besi. Tiat Keng Sim menyaksikan itu, ia bersenyum, sembari bersenyum, ia bertindak keluar. Terus ia menjura kepada Bong Goan Tjoe seraya berkata: "Seorang budiman, dia menggeraki mulutnya, tidak tangannya, jikalau taydjin hendak ada bicara, silahkan bicara dengan baik-baik. Segala macam urusan masih dapat didamaikan..." Belum lagi perkataan ini diucapkan habis, mendadak Bong Goan Tjoe menjerit, cekalannya terlepas, menyusul mana, Bhok Lin sudah lantas mengayun tinjunya ke arah muka lawannya itu, mengeluarkan tangan kirinya, untuk mencegah, sedang dengan tangan kanannya, ia menahan Bong Goan Tjoe. "Segala apa dapat dibicarakan dengan baik-baik," katanya pula, bersenyum. "Dengan memandang mukaku, aku minta tuan berdua sudilah menahan tangan kamu." Ia bicara kepada dua Goan Tjoe dan Bhok Lin. Goan Tjoe mendorong orang yang menghalanginya itu, ia tidak dapat menolak tangan orang, tubuh siapa pun tidak bergeming. Ia juga merasakan tangannya sakit. Lekas-lekas ia tunduk, untuk melihatnya. Di luar tahunya, telapakan tangannya telah terluka tergores. Ia tidak merasa bahwa tadi, selagi Keng Sim menjura kepadanya, tangan si anak muda telah menyentuh tangannya itu, kukunya menggoresnya. Ia menjadi kaget berbareng gusar. "Kau siapa?" ia membentak. Sementara itu Poan Thian Lo kaget di dalam hatinya. Ia rada sembrono tetapi ia lebih liehay daripada adik seperguruannya itu, dengan matanya yang tajam ia bisa melihat Keng Sim mestinya liehay, cuma romannya saja Keng Sim seperti anak sekolah yang lemah. Ia pikir, "Rasanya aku pun belum tentu dapat mengalahkan dia..." Tengah Poan Thian Lo bersangsi, Keng Sim sudah tak menghalangi lagi tangannya Bong Goan Tjoe. Ia membungkuk dan berkata pula: "Aku adalah sioetjay miskin yang mau pergi ke kota raja untuk turut dalam ujian, kalau sekarang taydjin mengusir aku, celakalah aku ini. Aku tidak punya uang untuk menyewa kamar di lain pondokan, bahkan mungkin aku bakal tidak mendapati lainnya pondokan lagi. Di samping itu aku bangsa anak sekolah, tidak dapat aku tidur di udara terbuka, maka itu, aku minta sukalah taydjin mengasihani aku dan memaafkannya." Poan Thian Lo melirik si anak muda, lalu mendahului Goan Tjoe, ia berkata: "Dengan memandang kau satu sioetjay, baiklah, kami tidak usir padamu," ia terus menoleh kepada dua opsir rendah lainnya, ia kata: "Lekas bereskan itu dua kamar, sore ini biarlah kita tidur sedapatnya." Bhok Lin mengawasi orang dengan mata mendelik tandanya ia masih panas hatinya. "Adik Lin, jangan kita menerbitkan gara-gara," Keng Sim membujuk, perlahan. Ia menarik tangan orang, untuk diajak masuk. Meski begitu, ia tidak merapati pintu, untuk melihat apa yang masih dapat terjadi. Bong Goan Tjoe masih mendongkol, ia menghampirkan kamar yang kedua dan menendangnya, setelah pintu menjeblak, dua opsir rendahan yang dititahkan Poan Thian Lo lantas saja nerobos masuk tanpa perdulikan siapa yang berada di dalam kamar itu. Tiba-tiba dari dalam kamar itu terdengar suara plak-plok beruntun-runtun, kemudian terlihat dua nona muda belia berlompat keluar, gerakannya sangat sebat, belum orang sempat mengawasi padanya, mereka sudah sampai kepada Bong Goan Tjoe, lalu tahu-tahu "Plakplok! Plakplok!" terdengarlah suara nyaring, atau si orang galak itu kena digaplok empat kali oleh mereka itu, mengenai kupingnya, menyusul mana, mereka memutar tubuh, untuk menendang kedua opsir rendah itu, hingga keduanya terpelanting setombak jauhnya. Keng Sim melihat itu semua, ia kaget dan heran. Kedua nona muda itu dandan serupa, baju mereka berwarna kuning gading, rambut di kedua pinggirannya dibikin model kupu-kupu. Mereka bertubuh kurus. Satu di antaranya, mirip dengan potongan tubuh si nona yang meninggalkan pisau belati berikut surat... Bong Goan Tjoe bukanlah seorang lemah, akan tetapi datangnya serangan sangat mendadak dan cepat luar biasa, maka itu ia menjadi kurban gaplokan berantai itu. Tentu sekali ia menjadi murka bukan buatan. Dalam murkanya segera ia menyerang dengan pukulannya ilmu silat Toasoet paytjioe. Bahwa pukulan ini hebat sudah bisa diduga dari menyambarnya angin yang keras sekali. Kedua nona itu tidak takut, bahkan mereka saling memandang dan tertawa. Kata yang satunya: "Apakah kau hendak menghina orang dengan mengandali saja tenaga kerbaumu? Hm!" Diserang hebat, mereka lantas perlihatkan kelincahan mereka. Senantiasa mereka main berkelit, indah gerakannya, bagaikan kupu-kupu selang-seling di antara bunga-bunga atau cecapung memain di air. Ruang sempit dan di situ pun ada kursi meja akan tetapi mereka masih dapat bergerak dengan leluasa. Mereka tidak mau berada berduaan saja, selalu mereka memisahkan diri, tubuh mereka licin seperti ikan berenang pergi datang di dalam air. Sia-sia belaka Bong Goan Tjoe mengeluarkan seantero kepandaiannya, ia tidak memperoleh hasil, bahkan melanggar saja ujung baju si nona-nona, ia tidak mampu. Celakanya ialah kalau ia diserang berbareng dari kiri dan kanan. Saking sengitnya, ia tendang kursi meja hingga jadi jumpalitan, dengan begitu ia membuatnya ruang jadi lebih lega sedikit, tetapi juga sekarang ini, ia tidak berhasil menghajar nona-nona itu, yang tetap berlaku lincah, hingga akhirnya ialah yang matanya kabur dan kepalanya pusing... Poan Thian Lo menyaksikan itu dengan masgul. "Soetee, kau mundur!" akhirnya ia berkata. Kakak seperguruan ini belum menutup mulutnya, atau kupingnya mendengar suara plak plok dua kali, suaranya nyaring-nyaring halus. Sebab Bong Goan Tjoe kembali kena digaplok di kiri dan kanan! "Siapa guru kamu?" Poan Thian Lo menanya nyaring. "Apakah orang berkelahi mesti mencari gurunya?" balik tanya nona yang di sebelah kiri. Nona yang di kanan tertawa, ia berkata: "Apakah kau hendak memperdayai kami supaya kami mencari guru kami, supaya kamu dapat ketika untuk lari mengangkat kaki? Haha! Jikalau kau tidak berani, ya sudah saja, cukup asal kamu menghaturkan maaf sambil berlutut dan mengangguk-angguk tiga kali. Ingat, kamu mesti membungkuk hingga kepalamu mengenai batu dan berbunyi nyaring!" Po Thian Lo tidak niat memancing nona-nona itu, ia hanya hendak mengetahui guru orang, guru yang liehay mestinya. Dengan mengajukan pertanyaan, ia tidak berbuat sembrono, ia bisa menyingkirkan keruwetan di belakang hari. Maka adalah di luar sangkaannya, ia pun dipermainkan nona-nona itu, hingga ia menjadi gusar. Dengan lantas ia mengulur kedua tangannya, semua sepuluh jarinya dibuka, untuk menjambak. Kuat sepuluh jarinya itu, kuat seperti gaetan. Dengan satu gerakan "Burung Hong menggoyang kepala", nona yang di kiri lompat ke samping, lalu dari situ ia maju untuk menggaplok. Ia berkelit lincah sekali, ia pun menyerang dengan dahsyat. Ia percaya dengan kelitannya itu ia akan berhasil menyelamatkan dirinya. Dan ia benar-benar berhasil. Hanya ketika ia membalas menyerang, kesudahannya ia kaget luar biasa. Selagi ia menduga, musuh tidak bakal bisa menyambar pula padanya, sekonyong-konyong tangan lawan sampai kepadanya. Aneh gerakannya Poan Thian Lo, tangannya seperti terulur lebih panjang daripada semestinya. Pasti si nona tidak ketahui kepandaian orang itu, kepandaian yang menjadi warisan istimewa dari Tjie Hee Toodjin. Itulah yang dinamakan "Thongpek Wankang," atau ilmu silat "Orang hutan tangan panjang." Syukur untuk si nona, ia tidak menjadi gugup, ia lantas menyingkirkan diri, sedang kawannya, si nona di sebelah kanan, membarengi menyerang dengan "Dewi mengantar anak," yang disusul sama serangan "Bidadari melemparkan torak." Tangan dan jari tangannya menyerang berbareng. Poan Thiau Lo repot juga, dari itu tak sempat ia menyerang terus pada si nona di sebelah kiri itu, hingga nona itu dapat membebaskan diri! Kedua nona itu, setelah bebas dari ancaman berbahaya, pada tertawa. "Kau nyata terlebih pandai daripada si tolol dan gerubuk itu!" kata mereka, menggoda, sikapnya jenaka. Hanya meski demikian, selanjutnya mereka tidak mau alpa seperti tadinya. Menghadapi lawan yang kosen, mereka berlaku waspada. Kembali mereka menggunai kelincahan tubuh mereka, kelit sana dan kelit sini. Mulanya Poan Thian Lo menelad adik seperguruannya, ia menggunai kekerasan, ia menggunai tenaga dari Toasoet paytjioe, habis itu, ia mengubah itu, ia menggunai jurus-jurus dari Kimnahoat, untuk dapat menangkap kedua nona itu. Ia menang tenaga dalam dari Bong Goan Tjoe, ia bisa berkelahi dengan ulat. Demikian sudah terjadi, kedua nona kena didesak, hingga mereka dapat membela diri, tidak bisa mereka melakukan penyerangan membalas... Pikirannya Tiat Keng Sim bersamaan dengan pikirannya Poan Thian Lo. Yang paling penting ialah melindungi bingkisan hingga di kota raja dengan tidak kurang suatu apa. Di belakang hari, di kota raja, mereka toh bakal bertemu pula. Jadi dia tidak ingin berkelahi. Maka dia memikir untuk memperkenalkan diri, untuk menyudahi perselisihan itu. Siapa tahu, Poan Thian Lo itu si gerubuk, karena murkanya, ia telah menantang, omongannya tidak menyedapkan telinga yang mendengarnya. Di sebelah itu, dia dibuatnya panas oleh kata-katanya kedua nona itu. Terpaksa dia menghunus pedangnya. "Kalau begitu," berkata Keng Sim, tertawa, "aku harus tidak mengenal diriku, aku mohon pengajaran dari Poan Taydjin, untuk beberapa jurus saja. Aku mohon sukalah Taydjin berlaku murah hati." Poan Thian Lo sebaliknya membentak. "Boleh jikalau kita tidak turun tangan, kalau kita turun tangan juga, tidak ada soal murah hati lagi!" demikian suaranya yang katak. "Siapa kesudian berdamai denganmu?" Dia menyangka benar-benar Keng Sim jeri. Tapi dia telah melihatnya orang memperlihatkan kepandaiannya tadi, dia mengetahui orang bukanlah musuh yang ringan. Maka dia geraki cambuknya, menyerang ke bawah dengan jurusnya "Laosoe poankin" atau Pohon tua gempur akarnya," Bahkan dia membulang-baling terus tiga kali, hingga benar-benar dia tidak mau berlaku murah hati. Mau atau tidak, Keng Sim mendongkol juga. Tentu sekali, ia juga ingin mempertunjuki kepandaiannya. Maka ketika cambuk hampir mengenai kakinya, sesudah ia berkelit beruntun dua kali, ia membabat ke bawah, memapaki cambuk itu. Keng Sim menggunai pedangnya Tjio Keng To, gurunya, pedang curian dari istana kaisar, yang diberi nama Tjiehong kiam atau Pedang Bianglala, pedang yang tajam luar biasa, dapat menabas besi dan memutuskan rambut yang ditiupkan ke arah tajamnya. Dari itu, ketika kedua senjata bentrok, terdengarlah suara "Sret! Sret!" sedang sinarnya berkelebatan. Kesudahan dari bentrokan itu membuatnya Poan Thian Lo kaget dan akhirnya menjadi gusar sekali. Ia bukannya berhasil menyapu orang, hanya gigi-gigi mirip gergaji dari cambuknya itu kena dipapas putus. Sambil menjerit, ia menyerang pula dengan hebat, dengan tipu silatnya "Angin puyu membuatnya pohon lioe menari," cepatnya bagaikan hujan angin dahsyat. Keng Sim tidak perdulikan hebatnya serangan lawan, ia melawan dengan tidak kalah bengisnya. Ia menggunakan jurus "Hujan angin di empat penjuru," salah sebuah tipu silat dari Keng To Kiamhoat, ilmu pedang "Keng To" (Gelombang). Di antara sinarnya yang berkilauan, terdengarlah suara nyaring berirama. Kedua nona tadi lantas tertawa, tangannya ditepuk-tepuk. "Merdu suara tetabuan ini, sungguh sedep didengarnya!" mereka memuji. Suara itu ialah suara pedang yang tajam membabat giginya cambuk, si nona-nona menganggap suara itu merdu... Untuk Poan Thian Lo, suara itu sebaliknya mengiris hati. "Sungguh celaka!" dia menjerit dalam murkanya yang sangat. Sebab hanya dalam beberapa jurus, habis sudah semua gigi cambuknya itu, semua habis terpapas pedang lawan. Tjiehong kiam tidak mengasi hati pada gigi-gigi itu. Tiat Keng Sim sebaliknya tertawa. "Poan Taydjin, suka kau berlaku murah, bukan?" katanya. Poan Thian Lo sebaliknya menjadi seperti kalap. "Akan aku mengadu jiwa denganmu!" bentaknya. Dan ia menyerang pula, dengan hebat sekali, dengan cambuknya yang sudah tidak bergigi lagi. Hebat serangan ini, sebab dalam ilmu kepandaian, si Taydjin memang tak ada di bawahan Keng Sim. Keng Sim juga tidak berani memandang enteng, dengan gigih ia membuat perlawanan, cuma sekarang ia tidak bisa berbuat seperti tadi, dengan cepat meruntuhkan semua gigi cambuk. Sekarang cambuk itu, yang dimainkan dengan lincah, tak gampang untuk dibabat kutung. Cambuk itu memang terbuat dan otot-otot harimau, keras bisa keraskan lempang bagaikan toya, lunak bisa dilunakkan hingga dapat dililitkan di pinggang. Pula celaka siapa kena dihajar atau dilibat. Keng Sim seperti dipaksa menggunai ilmu silat pedangnya, Keng To Kiamhoat itu, maka ia membikin pedangnya itu benar-benar seperti "gelombang yang mengagetkan" (keng to). Karena Tjio Keng To terhitung salah satu dari empat kiamkek, ahli silat terbesar, bisa dimengarti dia hanya berada di bawahan Thio Tan Hong. Sebagai murid, Keng Sim telah paham ilmu pedang itu, ditambah sama latihannya sudah tujuh atau delapan tahun, ia dapat mempergunakannya dengan mahir. Ia pun murid yang paling disayang. Di mana dua orang bagaikan berkelahi mati-matian, tidak heran pertempuran mereka jadi seru sekali, keadaan mereka pun berimbang. Maka sampai sekian lama, mereka masih sama tangguhnya, tidak ada yang mau menyerah kalah. Kedua nona nonton perkelahian belum lama, keduanya mendaki bukit, lalu mereka duduk berendeng di atas sebuah batu besar. Dari atas dengan leluasa mereka dapat memandang ke bawah, sikap mereka tenang. Mereka lalu merundingkan tentang dua orang yang lagi mengadu jiwa itu, suara tertawa mereka saban-saban dibawa angin gunung hingga ke kupingnya si anak muda. Keng Sim menjadi tidak senang hati. "Aku berkelahi untuk mereka, mereka justeru menjauhkan diri," katanya di dalam hati. "Aku bukannya mengharap bantuan mereka, hanya aku tidak puas untuk sikapnya. Kenapa mereka menganggapnya enteng sekali kepada orang yang menolongi mereka?" Poan Thian Lo sendiri sudah mulai bingung. Sia-sia belaka desakannya itu, ia tidak berhasil mengalahkan lawannya ini, yang tadinya ia tidak pandang terlalu tinggi. Juga Keng Sim, ia mulai mendongkol. "Dia tidak mengenal salatan, buat apa aku menaruh belas kasihan terhadapnya?" ia berpikir. Maka ia berseru, ia menggeraki pedangnya hebat sekali. Ia melawan keras dengan keras. "Kena!" ia berseru kemudian. Ia bukannya membabat cambuk, hanya setelah cambuk lewat di atasan kepalanya, untuk mana ia mendak, selagi bangun berdiri pedangnya diarahkan ke dada orang, di jalan darah Tantiong hiat. Tidak ampun lagi, Poan Thian Lo menjerit keras, lalu tubuhnya roboh. Habis merobohkan musuhnya, yang membuatnya lega hati, Keng Sim mengangkat kepala, melihat ke atas bukit. Ia menampak kedua nona tertawa seraya bertepuk-tepuk tangan. "Terima kasih!" terdengar suara mereka itu, nyaring tetapi halus. "Inilah tidak berarti!" berkata Keng Sim. "Orang Biauw galak ini telah aku robohkan, kamu boleh turun sekarang!" "Terima kasih yang kau telah menolongi kami merobohkan dia!" berkata satu nona, ia tertawa begitu pun kawannya. "Kedua entjie-ku mungkin sudah berhasil dengan pekerjaan mereka, kami hendak pergi menyambut mereka itu, dari itu tidak dapat kami menemanimu lebih lama pula... " Mendengar itu, Keng Sim terkejut. "Oh, jadi benar kamu berkomplot untuk merampas bingkisan!" katanya. Dua nona itu kembali tertawa. "Orang membilangnya Tiat Kongtjoe cerdas, benarlah dugaanmu itu!" kata mereka. Keng Sim kaget bukan main. Hebat jawaban itu, yang melebihkan cacian. Ia menganggapnya dirinya pintar, ia toh kena dipermainkan kedua nona-nona itu. Ia telah dipancing dengan tipu daya. "Memancing harimau turun dari gunung." Bukankah mereka memincuk Poan Thian Lo keluar dari pondokan, lalu ia pergi menolongi mereka, dengan begitu pondokan jadi kosong, lalu bekerjalah koncoh mereka? Siapa bisa melawan mereka itu? Anak muda ini menjadi serba salah. Ingin ia mengubar ke atas, kepada kedua nona itu, ia kuatir barangnya sendiri nanti hilang. Selagi ia diam mengawasi, nona-nona itu tertawa pula, tertawa geli sekali. Sembari mengulap-ulapkan tangannya, mereka berkata: "Di dalam gudangnya si raja ada bertumpuk emas dan kumala, segala macam permata pun ada, toh kamu masih hendak menghadiahkan kepadanya! Maka kalau kami mengambil bingkisan ini, tidak ada artinya, bukan?" Segera setelah ucapannya itu, mereka mengangkat kaki, lari naik semakin tinggi ke atas bukit, hingga sebentar kemudian, mereka sudah melewati bukit itu. Karena tidak ada harapan untuk mengejar, Keng Sim lari balik ke hotel. Selagi mendekatin, kupingnya sudah mendengar suara berisik sekali dari arah hotelnya. Ia heran dan kaget, maka ia berlari-lari keras. "Rupanya kawanan perampas belum mengangkat kaki," ia menduga-duga. Dengan cepat pemuda ini sampai di depan hotel, di mana ia menampak segala apa kalang kabutan. Serdadu-serdadu pengiring pada roboh menggelatakan, bekas dihajar perampas. Bong Goan Tjoe, dengan mulut berkaokan, lagi melayani satu nona muda belia, sedang seorang nona lainnya lagi menggerayangi kedua peti besi yang memuat bingkisan. Kedua peti kecil tetapi berat, sebagai ia mengetahuinya, dua opsir rendahan, yang membawa itu, telah termege-mege karena mesti menggunai tenaga berlebihan setiap peti itu beratnya mungkin seratus kati. Sebaliknya nona itu, memegang peti dengan masing-masing tangannya, dia seperti tidak menggunai tenaga. Dua-dua nona itu berumur masing-masing baru empat atau lima belas tahun, mereka mirip dengan dua yang tadi, hingga mulanya Keng Sim menduga mereka itulah yang telah mendahului ia tiba di hotel, setelah ia mengawasi, ia mendapat kenyataan mereka ini lebih gemuk sedikit, cuma pakaian mereka berempat sama, ialah warna kuning gading dan di kepala mereka ada kupu-kupunya. Juga senjata mereka serupa yaitu golok pendek dengan kepala naga-nagaan. Kemudian si nona yang merampas bingkisan itu tertawa dan berkata sendirinya: "Aku mengira benda apa yang berharga luar biasa, kiranya cuma dua patung Buddha dari emas!" Suaranya itu menyatakan ia sangat tidak memandang mata kepada dua patung emas itu. Sebenarnya pada waktu itu, Koeitjioe ialah sebuah propinsi yang miskin, sampai ada pepatah yang berbunyi: "Langit tidak ada tiga hari yang terang jernih, di bumi tidak ada tiga hari yang aman tenteram, dan di antara manusia, tak ada yang mempunyai emas tiga hoen saja." Toh telah terbukti, soenboe dari Koeitjioe telah berhasil membuat tiga patung Buddha yang berat itu, dari itu dapat dimengarti bagaimana dia sudah memeras rakyatnya. Bong Goan Tjoe mencaci kalang-kabutan, tetapi dia menggunai bahasa Biauw. Keng Sim melihat ke sekitarnya. Di mana si nona cuma ada berdua, ia mau percaya barangnya sendiri belum sampai kena dirampas, karena itu, hatinya menjadi sedikit lega. Karenanya, ia merasa lucu juga mendengar ocehannya Bong Goan Tjoe itu. Meski begitu, ia beragu-ragu. Ia memikir-mikir, apa baik ia membantui Bong Goan Tjoe merampas pulang kedua patung emas itu. Pertempuran berlangsung terus, selagi Keng Sim mengawasinya, mendadak ia melihat si nona telah menggores jidatnya Bong Goan Tjoe, hingga darahnya lantas keluar, mengalir turun. Atas kejadian itu, yang membikin ia merasa sakit dan semakin gusar, Bong Goan Tjoe menggeraki kedua belah tangannya, melontarkan sepuluh gelang perak di lengannya itu. Sebab gelang-gelang itu adalah senjata rahasia suku bangsa Biauw. Hebat menyambarnya senjata rahasia itu, sampai hati Keng Sim terkesiap, karena ia sekarang menguatirkan keselamatannya si nona tanggung itu... Si nona kecil tidak menjadi bingung. Ia mengayunkan tangannya menerbangkan dua batang pisau belati. Segera terdengar menyusulnya suara tangtingtong, suara yang tak hentinya. Ternyata sembilan gelang dari Poan Thian Lo telah terpapas kutung menjadi dua potong, belum lagi buyar, sudah kena dihajar pisau belati itu, semuanya menjadi kacau tujuannya, menjadi saling bentrok sendiri. Tidak ada sebuah pecahan juga yang mengenai tubuh si nona, yang main berkelit dengan lincah. Nona yang lainnya telah menyambar kedua peti besi itu, untuk dibawa lari dengan pesat. Dia justeru lari lewat di sampingnya Keng Sim. Kalau ia mau, Keng Sim bisa mengulur tangannya, menyambar, merampas peti besi itu, atau ia hanya memegat, untuk merintangi. Belum dia sempat berpikir, si nona sudah berkata dengan perlahan: "Masing-masing baiklah menyapui saja salju di depan rumahnya sendiri, jangan perdulikan es di genting rumah lain orang!" Tercengang Keng Sim mendengar suara itu, ialah pemberian ingat untuk ia jangan usilan, supaya ia jangan mencampuri sepak terjangnya nona-nona itu. Justeru itu terdengar teriakan berulang-ulang dari Bhok Lin dari pondokannya: "Tjiehoe, lekas! Lekas ke mari!" Sebab ipar itu pun telah melihat sesuatu. Oleh karena menguatirkan barang yang dilindunginya sendiri nanti lenyap, Keng Sim lantas lari pulang. Dengan begitu ia menjadi membiarkan si nona lari terus. Ketika ia tiba di muka pondokan, dengan sekali melirik saja, ia telah melihat muka Bong Goan Tjoe mandi darah, karena dia telah dihajar roboh si nona cilik. Di rumah penginapan itu orang pada bersembunyi dengan tubuh mereka bergemetaran. Tidak ada seorang juga yang berani mengasi dengar suaranya. Cuma Bhok Lin yang gembira sekali, ia memegang tangan tjiehoe-nya untuk ditarik masuk ke dalam kamar. "Tjiehoe," katanya tertawa setibanya di dalam, "banyak pengalamanmu dalam dunia kangouw tetapi kali ini kau salah mata, justeru terkaankulah yang benar! Nona-nona itu benarlah orang-orang yang merampas bingkisan untuk kaisar! Dan terhadap kita, mereka itu memandang mata, mereka melepas budi!" Keng Sim menutup pintu kamar. "Kenapa mereka melepas budi?" ia tanya iparnya itu. "Kau lihat!" sahut Bhok Lin, tangannya menunjuk. Keng Sim segera memandang ke arah yang ditunjuk itu, ialah peti buku mereka di dalam mana disimpan bingkisan mereka. Di situ menancap sebatang pisau belati, yang ditusukkan sehelai kertas. Tidak usah ditanya lagi, pastilah itu kertas dan pisau belati dari si nona-nona. "Mereka itu, begitu mereka masuk, lantas plak mereka menimpuk dengan pisau belati mereka," Bhok Lin menerangkan, "dan mereka mengatakannya supaya kita jangan usilan. Sebenarnya aku berniat menempur mereka, akan tetapi karena mereka sudah lantas memakai cara kaum kangouw, aku membatalkan niatku itu, aku membiarkan mereka merdeka. Bukankah suatu keharusan, jikalau orang menghormati kita satu kaki, kita membalasnya hormat itu dengan satu tombak?" Keng Sim tertawa dan mengatakannya. "Aku kuatir justeru lain oranglah yang membiarkan kau!" Lantas pemuda ini mencabut pisau belati itu, untuk mengambil suratnya. Di situ ada coretan beberapa huruf yang tak keruan, bunyinya begini: "Kamu membelai apa yang tak adil, kami suka berbuat baik. Jikalau kamu tidak kenal salatan, ketahuilah, bingkisanmu sukar sampai di kota raja!" Habis membaca, Keng Sim berkata: "Mana ini pemberian muka untuk berlaku baik kepada kita? Inilah ancaman belaka!" "Bukankah barang kita tak disentuh sama sekali?" tanya Bhok Lin. "Mereka hanya membilang, kali ini mereka tidak merampas, lain kali mereka akan mengulurkan tangan mereka," Keng Sim menjelaskan. "Tapi kita tidak takut!" berkata Bhok Lin, berani. "Kita empat orang dewasa, mustahil kita tidak dapat melawan empat orang nona bocah itu?" Keng Sim berpikir. Melihat kepandaian si nona, dengan sebatang pedangnya, ia sanggup melayani mereka itu, ia percaya, ia tidak bakal dikalahkan, tetapi yang ia kuatirkan ialah orang-orang di belakang nona-nona cerdik itu, mereka itu mestinya orang-orang yang liehay. Kalau mereka tidak liehay, cara bagaimana mereka berani merampas bingkisan hadiah untuk raja? "Tjiehoe, kau pikirkan apa?" Bhok Lin menanya, melihat tjiehoe itu diam saja. "Apakah benar-benar kau kasi dirimu kena digertak mereka? Benarkah kau takut?" Keng Sim tertawa. "Aku bukannya takuti mereka itu," ia menyahut, "aku hanya kuatir Poan Thian Lo sadar dan datang ke mari hingga dia melihat kita. Mana enak menghadapi pertemuan itu? Maka baiklah kita lekas berangkat!" Benar-benar orang she Tiat ini bertindak. Ia menyuruh kedua boesoe siap sedia, ia sendiri melakukan pembayaran kepada pemilik rumah penginapan. Maka di lain saat mereka sudah mulai dengan keberangkatan mereka. |
| < Prev | Next > |
|---|


