| Bing |
|
|
|
Siapakah dia? Tak lain tak bukan, dialah Koenma, menantu yang manis, dari Bhok Kokkong —— ialah Tiat Keng Sim. Keluarga Bhok itu bertugas melindungi keselamatan dan kesejahteraan propinsi Inlam, sebuah wilayah di tapal batas, dan telah turun temurun kedudukannya adalah sebagai kokkong atau hertog. Semenjak Kaisar Beng Thaytjouw yang bernama Tjoe Goan Tjiang, Bhok Eng telah dianugerahkan gelaran raja muda Kimleng Ong, lalu puteranya, yang menjadi generasi kedua, memperoleh gelaran kokkong itu, terus turun temurun. Hingga tiba pada kokkong yang sekarang ini, sudah berjalan tujuh turunan. Hertog yang sekarang bernama Tjong dan ia memangku pangkatnya itu sudah dua puluh tahun. Bhok Tjong telah berulangkali mendirikan jasa, hingga dia dihargakan rajanya. Sebab raja pun hendak mengambil hatinya, walaupun kedudukannya sebagai hertog belum dinaiki, disebabkan leluhurnya pernah menjadi raja muda (ong), dia diperkenankan menggunai tata cara sebagai raja muda itu. Bhok Tjong ini mempunyai dua orang anak, satu laki-laki, satu lagi wanita. Sang putera diberi nama Lin, dan sang puteri, Yan. Dan Tiat Keng Sim telah menikah sama Bhok Yan. Maka itu, menurut tata krama kaum pangeran (ong), dia menjadi koenma. Adalah wajar, siapa menjadi koenma, mestinya dia berbahagia sekali. Dia berkedudukan mulia, makan pakainya melebihkan segala kecukupan. Bahkan untuk Keng Sim ada kelebihannya lagi, ialah isterinya cantik dan sangat menyinta padanya. Kenyataannya tapinya tidaklah demikian. Dia merasakan suatu kekurangan dan karenanya dia seperti kehilangan kegembiraannya. Kenapakah? Adakah dia mencelah isterinya? Tidak! ![]() Bhok Yan cantik dan manis bagaikan bidadari, ia mengarti ilmu surat dan ilmu silat, ia sembabat bila dibanding sama Keng Sim. Sifat mereka pun hampir bersamaan. Dapat mereka menabu khim di bawah sinar rembulan atau main catur di ranggon mereka, ataupun bersama-sama melukis gambar di dalam taman. Lebih daripada itu, mereka pun saling menyintai. Tapi justeru segala kecukupan itu, semua penghidupan yang manis itu, yang mengganggu hatinya. Ia merasa, oleh karena hidup bahagia dan mewah itu, hidup tenteram tetapi menganggur, cita-citanya yang luhur, semangatnya yang menyala-nyala seperti mendapat rintangan. Demikianlah seorang diri itu, di malam yang indah tetapi sunyi itu, ia seperti menggadangi si Puteri Malam. Ia pun mengawasi pohon-pohon bunga. Sambil menghela napas, ia berkata seorang diri: "Dengan tahun ini maka sudah tujuh musim semi aku lalui di dalam istana Koenmahoe ini... Selama tujuh tahun itu, kecuali membuat syair dan karangan, ada apakah lagi?" Maka terkenanglah ia kepada masanya ia masih merdeka, bagaimana ia mundar-mandir dalam dunia kangouw, bagaimana itu menggembirakannya. Tengah ia ngelamun itu, tiba-tiba di otaknya berbayang wajahnya seorang nona. Maka menyeringailah dia. Katanya di dalam hatinya: "Sin Tjoe menyamakan aku dengan bunga mawar di Kanglam. Sekarang ini benar bukannya di Kanglam, tetapi dengan berdiam di dalam istana kokkong, bukankah aku seperti bunga mawar juga?" Masih koenma ini ngelamun tatkala ia merasakan hidungnya mengendus bau yang harum, hingga dengan sebat ia memutar tubuhnya, berbalik ke belakang, karena dari belakang datangnya bau semerbak itu. Maka itu melihatlah ia isterinya, yang berdiri dengan wajah tersenyum manis serta mata mengawasi kepadanya. "Ah, adik Yan," ia menanya, "kenapa kau masih belum tidur?" Bhok Yan tertawa. "Karena aku memikirkan kau!" sahutnya, bunga hatinya. "Sekarang sudah jam tiga, mengapa kau masih menggadangi rembulan? Eh ya, apakah kau mendapat suatu ilham untuk membuat sebuah syair yang indah?" Keng Sim menyeringai. "Selama yang belakangan ini aku merasakan kemunduranku," ia menyahut. "Apa yang telah aku tulis, aku sendiri melihatnya muak. Mana bisa aku mendapat ilham?" Bhok Yan mengawasi suaminya itu. "Keng Sim, adakah sesuatu yang kau pikirkan?" tanyanya sesaat kemudian. Ia menghela napas perlahan. "Ada kau yang menemani aku seumur hidupku, ada apa lagi yang membuatnya aku tidak puas?" si suami balik menanya. Bhok Yan masih mengawasi, tajam. Ia tertawa. "Keng Sim, jangan kau dustai aku!" katanya. "Adik Yan, siapa... siapakah yang tidak mengagumi kita sebagai keluarga yang sangat berbahagia?" tanya Keng Sim. "Aku... aku mana mempunyai pikiran lain?" Isteri itu tertawa. "Keng Sim, kau salah mendengar aku!" katanya. "Aku bukannya membilang hatimu berubah. Hanya selama beberapa tahun ini, kau ada sangat kesepian. Cuma ada aku seorang yang menemani kau, cuma aku seorang yang dapat berbicara denganmu... Tanpa kau mengutarakannya, aku sudah tahu kesepian dalam hatimu itu. Kau tunggu sampai lewat hari raya Tjengbeng nanti, aku akan menemani kau pergi ke Tali, untuk pesiar, di sana kau nanti dapat pasang omong dengan guruku sekalian kau mencari tahu tentang sahabat-sahabatmu." Kiamkek, yaitu ahli pedang, nomor satu di jaman itu, Thio Tan Hong, pernah mengajarkan ilmu silat selama tiga bulan kepada Bhok Yan, benar ia tidak diterima resmi sebagai murid, tetapi puteri pangeran itu selalu memanggil guru kepada gurunya itu, ia menyebut guru baik di depan maupun di belakang, Tan Hong menjadi Tayhiap, orang gagah dan penyinta negara juga, akan tetapi waktu itu, kedudukannya beda daripada yang sudah-sudah. Saking terpaksa, pernah ia mengacau di istana hingga karenanya dia hendak ditawan raja, karena mana, disebabkan tak dapat menaruh kaki lagi di Kanglam, dia pergi ke Tali di mana dia menetap di gunung Tjhongsan. Ketika itu wilayah Tali berada di bawah kekuasaannya Toan Teng Tjhong, kepala suku Pek. Namanya saja Teng Tjhong menghamba kepada kerajaan Beng, nyatanya ia berdiri sendiri. Tan Hong bersahabat kekal dengan Teng Tjhong, dia tinggal di Tjhongsan itu, sebenarnya, atas permintaannya "raja" Tali itu. Keng Sim ketahui baik tentang Thio Tan Hong itu, maka juga hatinya bercekat mendengar perkataan isterinya itu, hingga ia mau menduga apa isteri itu tengah memancing penyahutannya. Ia berdiam sekian lama, baru ia menyahuti. "Thio Tayhiap itu tak bergaul rapat dengan aku," jawabnya bersenyum. "Laginya, ayahmu menjadi kokkong yang melindungi wilayah Inlam ini, dari itu kuranglah bagus kalau kita berkunjung ke Tali. Tentang pesiar ini baiklah belakangan saja kita bicarakan pula." Di mulut Keng Sim mengatakan demikian, di hatinya ia berpikir lain. Tak dapat dicegah yang pikirannya itu melayang pada peristiwa tahun dulu itu di kaki gunung Tjhongsan atau di telaga besar yang dinamakan "laut" Djie Hay. Di telaga itu, pada suatu malam terang bulan, ia telah bermain perahu bersama-sama Sin Tjoe, Seng Lim dan lainnya. Adalah di malam itu yang ia memperoleh kenyataan Sin Tjoe diam-diam menyintai Seng Lim sedang Nona Bhok Yan jatuh hati kepadanya. "Aku tahu kau tidak puas," berkata pula Bhok Yan sambil tertawa. "Aku tahu guruku itu sangat menghargai Yap Seng Lim, sebaliknya dengan kau ia kurang perhatian. Sebenarnya mana dapat Seng Lim nempil denganmu? Seruas syair pun belum tentu ia mengarti? Aneh adalah entjie Sin Tjoe, ia bolehnya penujui dia!" Keng Sim merasakan kulit mukanya panas dan hatinya berdenyutan. Biasanya, kalau ia bicara sama Bhok Yan, ia selalu menjauhkan diri dari pembicaraan mengenai Sin Tjoe, tak ingin ia menyebut namanya Nona Ie, siapa tahu kali ini bicara hal niat pesiar ke Tali itu, justeru Bhok Yan yang menyebutkannya. Tapi hatinya lega juga melihat isteri itu bicara wajar, bukannya dengan niat menyinggung atau mengejek padanya. "Sesuatu orang ada jodohnya sendiri," ia menyahut sembarangan. "Benarkah itu?" tanya Bhok Yan bersenyum. Ia berhenti sebentar, lalu ia menambahkan. "Sayang entjie Sin Tjoe tidak berada di Tjhongsan. Kabarnya, habis menikah, ia turut suaminya pesiar tanpa tujuan, bahkan sampai sekarang ini belum ketentuan tempat tinggalnya lagi juga tidak ada kabar ceritanya. Kau tahu, pada bulan yang lalu adik Lin telah pergi secara diam-diam ke Tali, untuk menemui soehoe, baru beberapa hari yang lalu ia kembali. Aku belum sempat menanya dia, hingga belum diketahui ia dapat mendengar kabar atau tidak tentang entjie Sin Tjoe itu." Baru si nyonya menutup mulutnya, atau terlihat datangnya seorang ke arah mereka dan datangnya secara tergesa-gesa. Keng Sim dapat melihat orang itu, ia tertawa. "Baru kita menyebut Tjo Tjoh atau Tjo Tjoh telah datang!" katanya. "Kau lihat, apakah itu bukannya adik Lin?" Bhok Yan heran. "Tengah malam buta rata dia datang ke mari, apakah perlunya?" bilangnya. Yang datang itu benar Bhok Lin. Setibanya di taman, ia lantas berlari-lari naik ke lauwteng. Pula segera terdengar suaranya yang nyaring, yang penuh dengan kegembiraan: "Entjie! Tjiehoe! Ada warta sangat penting untukmu!" "Memang biasa kau berisik tidak keruan!" kata Bhok Yan sang entjie, tertawa. "Ah sampai kapankah kau bisa buang tabiatmu yang kekanak-kanakan ini?" Mukanya Bhok Lin bersemu merah. "Kali ini aku tidak mendustai kau, entjie!" katanya rada jengah. "Inilah benar satu kabar sangat penting yang di luar dugaan!" "Apakah ayah telah menegurmu?" tanya Bhok Yan. "Entjie, kau selamanya suka menggoda aku!" kata sang adik, tidak puas. "Kau mencuri pergi ke Tali, apakah ayah tidak memarahi kau?" "Memang ayah tidak senang tetapi ia tidak mengatai aku. Apakah entjie kira aku tetap bocah cilik? Sudah, entjie, jangan kau, memotong perkataanku. Kabar ini benar-benar kabar sangat penting." Bhok Yan tertawa. "Nah kau bilanglah, kabar sangat penting bagaimana itu!" "Kabar sangat penting, sangat besar, hingga menggemparkan dunia!" Kakak itu menjadi ragu-ragu. "Mari masuk, duduk di dalam!" ia panggil adiknya itu. "Baik, sekarang kau bicaralah, hendak aku mendengar, kabar apa itu yang menggemparkan dunia..." "Entjie tahu, raja yang sekarang telah wafat pada bulan yang baru lalu," Bhok Lin memberitahu. Mendengar itu, Bhok Yan tertawa geli. "Matinya seorang raja, apakah artinya?" katanya. "Itu bukanlah kejadian sangat penting, tak usah kau kelabakan tidak keruan!" Tapi ia menoleh kepada suaminya dan membilang: "Hanya kalau kabar ini sampai kepada entjie Sin Tjoe, dia tentulah akan bergirang luar biasa." Ayah Sin Tjoe adalah Ie Kiam, menteri yang pintar, setia dan berjasa, pernah dia menolongi kerajaan Beng dari keruntuhan, tetapi bukan raja menghargai jasanya itu ia justeru dihukum mati. Inilah sebabnya kenapa Bhok Yan mengatakan demikian. Mukanya Bhok Lin merah. "Entjie, kau belum mendengar habis omonganku!" ia menegur. "Nah, kau bicaralah!" kata entjie itu, acuh tak acuh. Ia mengeringi cawan tehnya. "Setelah raja wafat, putera mahkota segera naik di singgasana kerajaan," sang adik berkata pula, meneruskan kabar yang dia katakan sangat penting itu hingga menggemparkan dunia. "Putera mahkota ini, sebagai raja baru, lantas mengubah tahun kerajaan menjadi tahun Senghoa, maka mulai tahun ini ialah tahun Senghoa yang pertama." Bhok Yan menganggap kabar itu sangat lucu hingga ia kesimpatan air tehnya, yang ia terus semburkan, sembari tertawa, dia berkata: "Kalau raja yang lama wafat, sudah tentu mesti ada raja yang baru yang naik di tahta, setelah raja yang baru naik di tahta, sudah tentu dia akan mengubah nama tahun kerajaannya. Nah, apakah yang aneh dengan kabarmu yang sangat penting ini? Sebenarnya apakah yang menggemparkan dunia?" "Tapi aku belum bicara habis entjie!" sang adik berseru. "Jikalau kau tetap main potong omonganku, aku tidak hendak bicara lagi!..." Sang entjie menukar lain cawannya, ia menghirup pula tehnya itu. "Adikku, apakah aku tidak kena menyembur bajumu hingga basah?" katanya. "Baiklah, aku tidak akan memotong lagi omonganmu. Hayo, kau bicara, kau bicaralah!" "Tentang raja yang baru naik di tahta, kabarannya baru kemarin sampai di sini," Bhok Lin melanjuti. "Tempat kita ini jauh di selatan, di tapal batas, jalannya banyak gunungnya dan sangat sukar, perhubungan jadi sulit," menjelaskan Bhok Yan. "Kabar dari kota raja sampai di sini dalam tempo satu bulan lebih, itu pun sudah lekas sekali." "Aku bukan bicara dari hal kecepatan," kata adik itu. "Kau dengar!" "Memang aku mendengari!" sang kakak tertawa. "Kau benar, entjie, akan membilang perjalanan sukar dan sulit, tetapi aku tidak maksudkan itu. Aku hanya mau mengatakan, di Tionggoan sendiri, pelbagai propinsi telah menerima pelbagai laporan." "Itulah wajar. Semua propinsi itu, setiap gubernurnya, ada mempunyai wakilnya di kota raja, Pakkhia. Bahkan mungkin, sebelum tibanya laporan resmi, mereka sudah mengetahui terlebih dulu. Mereka dapat mengirimkan kabar istimewa cepat." "Benar! Satu hari kaisar, satu hari menteri! Siapakah yang tidak hendak mendapat muka dari rajanya yang baru? Demikian, begitu maklumat diumumkan, gubernur pelbagai propinsi sudah lantas berlomba mengirimkan pemberian selamat mereka serta bingkisan pula, bingkisan yang mereka mengumpulinya dengan susah payah, dalam rupa barang-barang berharga atau batu permata." Bhok Yan mengangguk. "Itu pun sudah wajar," ia membenarkan. "Tak usahlah itu dibuat heran." "Tak usah dibuat heran?" kata Bhok Lin, separuh berseru. "Justeru di sinilah keheranannya! Semua bingkisan dari pelbagai propinsi itu, sebelumnya semua tiba di kota raja, sudah kena orang rampas!" Bhok Yan terperanjat. Keng Sim berdiam saja semenjak tadi, ia cuma bersenyum-senyum menontoni itu kakak dan adik mengadu mulut, akan tetapi, mendengar kata-kata yang paling belakang ini, ia pun terperanjat. "Begitu?" ia bertanya. Bhok Lin menunjuki romannya sangat puas. Ia sudah menang! "Nah, bilanglah, apakah ini bukannya urusan sangat besar yang menggemparkan dunia?" ia tanya. "Sampai sebegitu jauh yang telah diketahui, bingkisan yang telah dirampas itu ada barang-barang dari sembilan propinsi Shoasay, Siamsay, Kamsiok, Hoolam, Hoopak, Shoatang, Ouwpak, Anhoei dan Tjiatkang. Yang dari lain-lain propinsi masih dalam perjalanan, apa semua itu juga telah dibegal atau tidak, masih belum diketahui..." "Siapakah perampas itu?" tanya Keng Sim, "Adakah dia pria atau wanita?" "Tentang pria atau wanita, inilah tidak jelas bagiku. Warta itu datangnya dari kota raja, di kirim sebagai warta kilat yang dinamakan 'kaburnya kuda delapan ratus lie.' Maka juga warta itu tiba berbareng sama maklumat naik di tahtanya raja yang baru. Yang dicurigakan pemerintah ialah guru kita, karena mana ayah telah diberikan titah rahasia untuk secara diam-diam menyelidiki gerak-gerik soehoe, terutama untuk dicari tahu, benar atau tidak soehoe telah meninggalkan Tali. Pada setengah bulan yang lalu itu aku masih melihat soehoe di Tjhongsan, kalau dihitung-hitung dengan saatnya, terang sudah ada hadiah dari beberapa propinsi yang kena dirampas, dengan begitu nyatalah perampasan itu bukan pekerjaan soehoe. Karena itu aku telah memberitahukan ayah agar ayah tak usah mencapaikan hati lagi menyelidikinya soehoe. Memang aku mencuri pergi ke Tali tanpa perkenan ayah, akan tetapi kebetulan sekali, aku jadi dapat memberikan keterangan yang berarti, dari itu walaupun ayah tidak puas, ayah toh tidak menegur atau mendamprat aku." Bhok Lin berhenti sebentar, lalu dia menambahkan: "Gubernur dari Hoolam, Hoopak, Shoatang dan Tjiatkang adalah sahabat-sahabat ayah, mereka itu pun pada mengirimkan kabar kilat, kabaran mereka itu terlebih jelas daripada kabar dari pihak pemerintah itu. Hadiah dari Siamsay, Shoasay dan Kamsiok, dirampasnya di Louwkauwkio. Hadiah-hadiah dari Shoatang, Hoolam dan Hoopak, dibegalnya di Pootong. Dan hadiah dari Tjiatkang, Ouwpak dan Anhoei, dikerjakannya di Tjio keetjhoeng. Dalam tempo tiga hari, dan di tiga tempat berbareng, telah dilakukan perampasan atas barang-barang dari sembilan propinsi itu, maka kabar dari semua kejadian itu tidak melainkan membikin gempar kota raja juga membuatnya semua gubernur dari pelbagai propinsi itu jadi kaget dan kelabakan, bingung bukan buatan!" Bhok Yan tertawa cekikikan. "Apakah kau melihatnya sendiri mereka kelabakan, bingung bukan buatan?" ia menanya, menggoda. "Sungguh hebat caramu bicara ini!" Bhok Lin tidak mengambil mumat yang ia digodai. Ia hanya kata: "Aku berada di kamar tulis ayah, aku melihatnya sendiri ayah mundar-mandir seraya menghela napas panjang pendek. Ayah mengatakan, karena raja baru naik di tahta, hadiah itu ialah hadiah yang tak dapat ditiadakan, bahkan kita, yang menjadi kokkong turun temurun, sudah layaknya kita mengirim hadiah yang terlebih banyak daripada propinsi-propinsi lainnya. Tetapi telah terjadi perampasan itu, ayah menjadi bingung sekali. Bagaimana kalau hadiah kita pun dibegal di tengah jalan? Maka kau lihat, entjie, apakah aku omong berlebihan? Ayah pernah mengalami pelbagai ancaman bencana, ayah toh masih berkuatir, apalagi itu segala gubernur, bagaimana mereka tidak menjadi kelabakan dan bingung bukan buatan?" Sang kakak itu tertawa pula. "Agaknya kau girang akan ancaman bahaya itu?" katanya. Sementara itu, Keng Sim berpikir: "Memang inilah kabar penting yang menggemparkan dunia. Pada sepuluh tahun yang lalu Pit Kheng Thian telah merampas uang negara sejumlah tiga puluh laksa tail, uang dari Ouwlam dan Ouwpak, perampasan itu menerbitkan badai dan gelombang dahsyat, tetapi kalau itu dibanding sama perampasan sekarang ini, sungguh tidak ada artinya. Sebenarnya siapakah yang telah makan hati serigala dan nyali harimau maka dia berani melakukan perampasan yang menggemparkan dunia ini?" Tengah ia berpikir demikian, Keng Sim ditanya iparnya: "Tjiehoe, aku hendak memohon sesuatu kepadamu!" Ia menjadi heran, hingga ia tercengang. "Engkoe, kau menghendaki apa?" Bhok Lin menyahuti dengan lantas. Katanya, "Hadiah dari ayah bakal lekas diberangkatkan ke kota raja, maka itu, aku pikir, hendak aku meminta tugas untuk mengantarkan itu." Keng Sim heran, sedang Bhok Yan tertawa lebar. "Jangan kau ngimpi!" kata kakak ini. "Mana ayah akan memberikan ijinnya untuk kau satu Toasiauwya yang manja pergi ke kota raja menempuh bahaya?" "Ini pun sebabnya kenapa aku hendak minta bantuan tjiehoe, supaya tjiehoe yang membicarakannya sama ayah!" sang adik menjelaskan. "Biasanya ayah mendengar katanya tjiehoe. Di samping itu, bukankah ilmu silatku melebihi segala guru silat atau pahlawan yang berada di dalam kantor ayah? Cuma kau sendiri yang menyebutnya aku Toasiauwya yang dimanjakan! Mereka itu sebaliknya membilang, orang dengan ilmu silat semacamku ini, untuk dunia kangouw sudah langka." Entjie itu menutupi mulutnya untuk mencegah tertawanya, saking geli ia sampai terbungkuk-bungkuk. "Entjie, kau selalu memandang enteng padaku!" kata adik itu. "Mana aku berani, mana aku berani..." berkata entjie itu. "Apakah kau menginginkan aku memuji kau seperti itu segala guru silat? Baiklah. Nah, kau dengarlah! Di dalam kokkonghoe, jikalau semua pintu dikunci, kaulah si orang gagah nomor satu di kolong langit ini, tetapi di sini, di koenmahoe, kau ialah..." "Tentunya orang gagah nomor dua di kolong langit ini!" Bhok Lin menambahkan, tertawa. Tapi ia tertawa hanya sebentaran, lantas ia mengasi lihat roman sungguh-sungguh. Ia kata: "Memang benar ilmu silatku tak dapat dibandingkan dengan ilmu silat tjiehoe, akan tetapi di dalam dunia kangouw, orang dengan kepandaian sebagai tjiehoe ini, bukankah tak seberapa gelintir? Di samping itu, selama aku pergi ke Tjhongsan secara diam-diam itu, di sana pun soehoe telah mengajari aku semacam ilmu silat pedang. Entjie, kau bukannya seorang pria, kau tidak dapat mengarti. Cita-citanya seorang laki-laki ialah di empat penjuru dunia! Maka itu kau ijinkanlah aku pergi keluar, untuk merantau, guna mendapatkan pengalaman!" "Ah!" seru si kakak sambil tertawa. "Jadinya kau juga hendak minta bantuanku untuk bicara sama ayah?" Di mulut puteri pangeran ini mengatakan demikian, di hatinya ia berpikir lain. Ia jadi ingat sikap suaminya. Pikirnya: "Ya, cita-citanya seorang laki-laki ialah di empat penjuru dunia! Bukankah adik Lin pun mengatakan aku tidak tahu hatinya seorang laki-laki? Keng Sim senantiasa lenyap kegembiraannya, mungkinkah itu disebabkan dia selalu seperti disekap di dalam rumah?" Tengah isteri ini ngelamun demikian itu, Keng Sim menekan meja sambil ia berbangkit berdiri. "Adik Yan, aku pun hendak memohon sesuatu dari kau," katanya. Isteri itu terkejut. Tapi ia rasanya dapat menerka. Maka ia tertawa. "Bilanglah," katanya. "Asal yang aku sanggup, tentu aku bersedia untuk menerimanya dengan baik." "Bingkisan ayahmu itu tidak dapat tidak diantar," berkata Keng Sim. "Tapi sekarang telah terjadi itu pelbagai perampasan, sungguh itu suatu ancaman bahaya besar dan sangat menyulitkan kita. Aku berterima kasih kepada ayahmu, yang menghargai aku, maka itu, mana dapat aku tidak memikirkan soal itu? Ingin aku membagi kesulitannya itu..." Bhok Yan tunduk. "Kiranya kau, seperti adikku, ingin aku menjadi juru bicaramu," katanya perlahan. "Benarkah?" "Oleh karena di sini tidak ada lain orang yang terlebih cocok," berkata pula Keng Sim, "maka biarlah aku yang pergi mengantarkan, untuk ini satu kali saja." Bhok Lin lantas menepuk-nepuk tangan, ia tertawa. "Bagus!" katanya. "Kalau tjiehoe yang pergi mengantar sendiri, pasti ayah akan meluluskan! Tjiehoe, kaulah pemimpin pengantar itu dan aku wakilmu!" Selagi sang adik girang bukan kepalang, kakaknya sendiri mengerutkan kening, tandanya ia masgul. Sekian lama ia berdiam saja, kemudian dengan perlahan ia kata: "Keng Sim, karena kau telah berkeputusan tetap, baiklah, aku tidak mau menghalang-halangi kau." "Kau pun tak usah berkuatir, adik," kata Keng Sim juga perlahan. "Asal di dalam hatimu ada aku, mustahil aku berkuatir?" kata isteri itu. Keng Sim sebenarnya hendak mengutarakan berbahayanya penghidupan dalam dunia Sungai Telaga, tetapi mendengar perkataan isterinya itu, ia membatalkan itu. Ia kata perlahan: "Asal hatimu ditukar menjadi hatiku, kita pasti akan menginsafinya dengan baik. Suami isteri ada bagaikan satu tubuh, dua hati menjadi satu, dari itu, apa perlunya hati kita ditukar lagi?" Bhok Lin sudah membuka mulutnya, hampir tertawa, baiknya kakaknya keburu mendelik mata kepadanya. Ia jadi berdiam. "Kau telah pergi ke Tjhongsan dan dapat menemui soehoe," berkata Bhok Yan, "habis kau dengar kabar apa lagi?" "Baru tahun yang lalu, Siauw Houw Tjoe telah keluar dari rumah perguruan," sang adik menyahut. "Dia telah merantau, katanya dia sudah mulai mendapat nama..." "Ada apa lagi?" "Ouw Bong Hoe suami isteri sudah kembali dari Kanglam, selama di Hayleng mereka telah melihat Yap Seng Lim bersama Ie Sin Tjoe berada di antara orang banyak tengah menonton gelombang laut." "Sungguh besar nyali mereka!" kata Keng Sim tanpa merasa, saking heran. "Memang mereka terlalu berani!" Bhok Yan tertawa, "Umpama kata mereka ketahuan dan kena ditawan, bukankah mereka bakal membuatnya capai hati pada Tiat Kongtjoe yang mesti pergi menolonginya?" Keng Sim bersenyum. Ia tahu ia tengah digodai isteri itu tetapi ia tidak menjadi gusar atau kurang senang. Pada tujuh tahun dulu pernah ia menolongi Seng Lim |
| < Prev | Next > |
|---|


