| Alone In the Dragon Kingdom |
|
|
FanFictionSilat oleh MogeiBocah-bocah itu terus menertawaiku. Aku memang orang asing bagi mata mereka yang sipit. Tetapi setidaknya mereka telah mengenalku selama setahunan ini. Namun, setiap pagi aku keluar untuk jalan-jalan menghirup udara segar mereka pasti tertawa terbahak-bahak bila melihatku. Aku tidak tahu pasti kenapa. Apa karena kulitku yang hitam yang pernah membuat mereka menangis ketakutan, dulu. Atau karena sepasang mataku yang jauh lebih besar dibanding punya mereka yang seperti sedang memejamkan mata itu. Sudah setahun aku hidup di perkampungan ini. Letaknya yang tidak jauh dari kotaraja membuat kampung ini tidak pernah sepi oleh lalu lintas para pedagang. Setiap hari pasti suasana ramai dimulai dari para pedagang dari kampung-kampung tetangga yang harus melewati kampung ini untuk menuju ke kotaraja. Seperti halnya pagi ini para pedagang sayur dan binatang buruan telah berdatangan sambil membawa barang jualan mereka. Untuk membalas budi sepasang suami isteri petani tua itu aku membantu mereka menjualkan panenan mereka. Akan tetapi, tahun-tahun belakangan cuaca sangatlah panas hingga banyak panen yang gagal karena mati kekeringan. Aku harus berjalan sejauh 5 kilo untuk mendapatkan air bersih di sebuah danau dan mengairi sawah-sawah mereka. Aku mengajarkan cara menyambung bambu-bambu untuk dijadikan sebagai jembatan yang dialiri air dari danau itu. Tetapi hari ini terpaksa aku harus berjalan memeriksa kalau-kalau ada kebocoran karena kecilnya airnya yang mengalir. Sekalipun sudah lumayan lama tinggal di negeri asing ini namun kemampuan bahasaku untuk dapat bercakap-cakap dengan mereka masih belum bagus juga. Hanya beberapa patah kata saja yang berhasil kuhapal betul-betul, apalagi kalau bukan ‘kamu’, ‘aku’, ‘makan’, ‘tidur’, ‘ya’ dan ‘tidak’. Seorang anak kecil mendatangiku sambil membawa keranjang bakul kosong. Dia mengoceh tak karuan tanpa menyadari kalau aku sama sekali tidak memahami kata-katanya. Dia mengoceh sambil menyodorkan keranjang itu. Lalu bocah itu diam dan menunjuk ke arah rumahnya. Aku memang kenal bocah itu, namanya A Gu, si kerbau. Tetapi tingkahnya pagi ini aku sama sekali tidak paham. Mungkin karena jengkel A Gu pun melemparkan bakul itu ke arahku sambil berlari pulang. Aku meraih bakul yang jatuh tak jauh dari tempat bocah itu tadi berdiri lalu berjalan menuju ke rumahnya. Karena menjadi satu-satunya orang asing di negeri ini aku sering merasa kesepian. Tidak ada seorang pun yang bisa kuajak bicara. Lebih parah lagi tidak ada seorang pun yang memahamiku sekalipun aku menggunakan berbagai gaya bahasa isyarat. Kadang aku merasa seperti seekor binatang saja, mungkin karena sering kulihat A Gu, bocah itu, lebih memahami monyetnya daripada berbicara denganku. Sebenarnya tidak ada niatanku untuk datang ke negeri ini. Semua ini terjadi karena kebetulan saja. Dulu di kampung tempat kelahiranku sana yang ternyata juga termasuk salah satu kampung yang dilewati oleh para pedagang, suatu hari dikejutkan oleh munculnya seorang biksu agung yang menunggang seekor kuda putih dan ditemani tiga orang biksu. Biksu itu menyampaikan maksud kedatangannya untuk menemui biksu aliran Buddha yang terkenal di negeriku. Setelah lama mereka berdiam di sana, suatu hari mereka memutuskan untuk pulang kembali ke kampung halaman mereka, negeri ini. Mereka membawa banyak sekali salinan kitab-kitab ajaran Buddha sampai masing-masing dari ketiga teman biksu itu harus memanggul berpak-pak kotak kitab. Karena masih banyak kotak kitab yang harus dibawa maka dicarinyalah orang-orang setempat yang mau membantu dengan diimingi-imingi bayaran yang tinggi. Bukan aku yang mengajukan diri. Aku sama sekali tidak tertarik dengan kain-kain sutra yang mereka janjikan sebagai upah itu. Aku tidak pernah tertarik. Tetapi ibu mertuaku sangat menginginkannya. Maka kami pun berangkat sampai tiba di negeri ini. Setahun yang lalu aku ditinggalkan biksu dan ketiga temannya itu tepat di tempat aku berdiri sekarang, di depan rumah kakek A Gu. Biksu itu bilang kalau mereka hendak mengunjungi istana kaisar terlebih dulu untuk menyampaikan hasil perjalanan mereka ke negeriku. Juga untuk memintakan kain-kain sutra sebagai bayaranku. Selama tiga hari aku menunggu kedatangan mereka kembali yang tak pernah kunjung datang sampai setahun ini. Mereka telah membohongiku. Mereka telah membohongi ibu mertuaku. Sialnya selain mereka tidak membayarkan kain-kain sutra itu sebagai upahku membantu mereka, mereka juga lupa memberiku peta perjalanan pulang ke negeriku seperti yang sudah pernah kuminta. Aku tersesat di negeri asing ini tanpa ada harapan untuk bisa pulang kembali selain dapat menemukan mereka. Aku memanggil-manggil A Gu di depan pintu rumahnya yang tidak tertutup rapat. Dari sela-sela pintu itu aku berusaha mengintip ke dalam untuk melihat bayangan A Gu. Tiba-tiba saja pintu itu terbuka lebar dan hampir menghantam hidungku. Si bocah itu langsung menggandeng lenganku dan mengajakku masuk ke dalam. Aku melihat kakek A Gu sedang menghadapi seseorang di pembaringan. Kakek A Gu berdiri membelakangi kami jadi aku tidak dapat melihat siapa yang berada di pembaringan itu. Saat aku berpikir kalau mungkin sang nenek yang tiba-tiba jatuh sakit tetapi ternyata sang nenek keluar dari dapur sambil membawa semangkuk sup panas yang berbau obat-obatan. Aku tahu sekali siapa saja anggota keluarga di rumah itu. Mereka hanya bertiga saja, A Gu dan kakek neneknya. Tidak ada orang lain. Maka aku pun jadi bertanya-tanya siapa orang yang sedang terbaring itu dan kenapa A Gu ingin sekali aku melihatnya. ==== Cerita lanjutannya bisa dibaca di Forum Hobby: Fan Fiction Forum ====== |
| < Prev | Next > |
|---|

