BlankDate: Tue, 10 Aug 2004 01:07:34 -0700 (PDT)
From: A Nizami <nizaminz@...>
Subject: Kasus Buyat 2
Kamis, 05 Agustus 2004
Laporan dari Teluk Buyat (2)
Kami adalah Generasi Benjol
Lepas sudah penderitaan bayi Andini Lensun. Ia
tertidur tenang untuk selamanya di makam yang terletak
di pekarangan samping rumah orang tuanya, Kampung
Buyat Pantai. Peringatan 20 hari meninggalnya Andini,
akhir pekan ketiga bulan lalu, berlangsung sangat
sederhana karena tiadanya biaya.
Haul Andini yang menyedihkan itu agaknya tak terendus
oleh panitia pesta makan ikan di Pantai Lakban, di
kemudian hari. Pesta ini digelar untuk menunjukkan tak
ada pencemaran di Teluk Buyat, baik itu yang
disponsori oleh PT NMR maupun Menteri Lingkungan Hidup
Nabiel Makarim. Bunga atau ucapan duka cita hanya
datang dari LSM: Yayasan Sahabat Perempuan, Kelola,
Nurani, dan Walhi.
Sang ibu, Masna Stirman, sedang bersama LBH Kesehatan
di Jakarta berikut tiga warga Buyat Pantai lainnya.
Belakangan, datang lagi 11 orang. Mereka berusaha
membawa kabar buruk ke pemerintah pusat agar terbuka
mata lahir dan mata hatinya terhadap derita warga
Buyat Pantai.
Andini lahir pada Januari 2004 dalam kondisi fisik
mengenaskan. Kulitnya seperti hangus terbakar,
berbintik-bintik, dan bernanah. Nyawanya tak
tertolong. Anak ketiga pasangan Andi Lensun dan Masna
ini, meninggal pada 3 Juli lalu.
Hampir bersamaan dengan kelahiran Andini, sebetulnya
ada satu bayi lagi yang lahir cacat di Kampung Buyat
Pantai. Umurnya pun lebih singkat, cuma dua bulan.
Meninggal pada 29 Februari 2004. Ibunya, Hasmia
Modeong (39), sempat memberinya nama, Ami.
''Kondisinya tak kalah mengenaskan,'' kata Mansyur
Lombonaung (50 tahun), tokoh warga setempat.
Ketika lahir, sosok Ami terlihat aneh. Jika bayi
normal antara dada dan perut relatif rata, tapi postur
anak ini berbeda. Dadanya terlihat mengembung dan
bulat. Antara perut dan dada dipisahkan oleh bagian
yang menjorok, seperti diikat seutas tali.
Kepala Ami besar dan mukanya mungil layaknya penderita
hedrosipalus. Di kulitnya ada keanehan. ''Jika sedang
diam terlihat putih, tapi kalau menangis, tiba-tiba
kulitnya menghitam (gelap),'' kata Hasmia yang sudah
menjanda sejak hamil tua untuk Ami. Anak ketujuhnya
ini meninggal ketika hendak dilarikan ke rumah sakit.
Sri Fika Modeong (2 tahun) adalah contoh lain bocah
Buyat Pantai yang menderita penyakit gangguan pada
organ tubuh. Sejak lahir, di beberapa bagian tubuhnya
terdapat borok. Kini kedua ketiaknya tampak merah,
lecet, dan selalu basah oleh nanah.
Saat ini, Sri Fika ikut berjuang bersama sang ibu,
Juhria Ratumbahe, di Jakarta. Mereka ingin menunjukkan
bahwa telah hidup dan memakan ikan dari Teluk Buyat
yang menjadi ''bak sampah raksasa'' limbah tambang
emas (tailing) PT Newmont Minahasa Raya (MNR). Hasil
penelitian laboratorium Fakultas MIPA Universitas
Indonesia menyebutkan mereka positif terkena limbah
berkandungan logam berat merkuri.
Yang terjadi pada Krifanes Ismail alias Ivan (1,5
tahun) agak unik. Ia tampak segar bugar. Anak dari
pasangan Marjan Ismail dan Jein Rorong ini kulitnya
terlihat bersih dan halus. Tapi, setelah diselidiki,
ia bukan tanpa kelainan. Di bagian bawah ujung lidah
Ivan, terdapat benjolan warna putih sebesar biji
jagung sejak sebulan terakhir. Ada kalanya daging
tumbuh itu mengeluarkan darah. Mungkin kaget atau
sakit, Ivan pun suka menjerit-jerit.
Ayahnya, Marjani, sudah dua tahun mengalami gangguan
kesehatan. Timbul dua benjolan sebesar kelereng di
kedua dadanya. Ketahanan tubuhnya menurun, mudah
lelah, dan tidak lagi bisa bekerja berat. Sedangkan
sang istri, mengalami gejala yang sama, tapi belum
memiliki benjolan.
Seorang bocah perempuan, Nursiah (5 tahun), yang
dipergoki Republika sedang buang air kecil di tepi
jalan juga mengalami gejala itu. Mulutnya meringis
menahan sakit. Di sekitar mahkota anak itu, kulitnya
lecet. Mirip yang dialami Sri Fika di ketiaknya.
Sedangkan Mirawati (9 tahun), terpaksa putus sekolah.
Waktunya banyak dihabiskan dengan berbaring di dalam
kamar rumahnya yang sempit dan berlantai tanah. Anak
Jafar Paparo ini, sesekali, kepalanya muncul dari
pintu kamar untuk mengintip ke luar dengan mata nanar.
Ada apa dengan bocah itu? Sejak setahun terakhir,
Mirawati memiliki benjolan di lipatan kaki kanannya.
Semakin lama ukurannya membesar, dan kini sudah
sebesar ibu jari tangan orang dewasa.
Mirawati tak mampu berjalan jauh. Baru 50 meter saja
melangkah, langsung terhenti. ''Kalau sudah begitu,
dia suka kejang dan jatuh,'' kata Jafar. Karena itu,
orang tuanya terpaksa meminta Mirawati berhenti
sekolah di SD Inpres Buyat, yang harus ditempuh dengan
jalan kaki sejauh 1,5 km.
Berkaca pada kasus anak-anak yang lahir dan tumbuh
cacat atau mengalami gangguan kesehatan, pasangan
Akbar Manope (28 tahun) dan Sulista Paputungan (22
tahun), menjadi gundah gulana. Sang istri kini tengah
hamil tujuh bulan untuk anak kedua mereka.
Akbar dan Sulista cukup beralasan untuk cemas. Ia
sendiri merasakan kondisi fisiknya banyak mengalami
gangguan kesehatan. Bangun tidur sering mengalami
keram, sakit tulang, kepala nyut-nyutan, dan sulit
berdiri. Pada pangkal kemaluannya terdapat benjolan
sebesar biji jagung. Sedangkan di sekitar alat vital
istrinya, mengalami gatal-gatal.
Mereka tak berani menjalani kuret, seperti dilakukan
istri Hendri saat kehamilannya berumur empat bulan.
Akbar dan Sulista setiap hari hanya bisa berdoa supaya
jabang bayinya lahir dengan sehat. ''Ya Allah, jangan
sampai anakku seperti Andini,'' ratap Sulista pada
Jumat malam yang sunyi, akhir bulan lalu.
Sejak kasus Andini, pasangan suami-istri di Buyat
pantai sebetulnya sudah enggan bereproduksi. Tapi,
bagi mereka, apa daya. Hasrat berhubungan intim tak
dapat dibendung. Sedangkan untuk menggunakan
kontrasepsi tak punya biaya. ''Untuk makan saja
susah,'' kata Ida (22).
Ida yang sedang menyusui anaknya, Bachtiar (4 bulan),
memiliki benjolan sebesar kelereng di payudara kanan.
''Rasanya sakit. Kalau dipijit keluar darah dan
nanah,'' katanya. Pada payudara satunya lagi, juga
mulai ada tanda-tanda benjolan. Ia mencemaskan anaknya
ikut tercemar. ''Bachtiar sudah mulai sakit-sakitan,
pada ketiaknya muncul luka,'' tuturnya. Sedangkan
suaminya, Sadam Maulengseng (32), sejak 2001 mengalami
gejala ngilu pada tulang dan merasa pusing-pusing.
Bertanya dan mencatat setiap keluhan warga Buyat
Pantai tentang kondisi kesehatannya memerlukan kertas
tebal dan pena cadangan. Orang yang secara kasat mata
tampak sehat, jika diminta buka pakaian, atau ditanya
keluhan yang dirasakannya, pasti memiliki masalah
dengan tubuhnya. Tengok pula Sudiro Paputungan (31
tahun). Sejak 2003, memiliki benjolan sebesar kelereng
yang tersembunyi di langit-langit mulutnya. ''Kalau
lagi kambuh, muka rasanya keram dan muntah-muntah,''
katanya.
Sedangkan ibunya, Saidah Paputungan (52), sudah satu
tahun ada benjolan di pergelangan tangan kirinya.
''Lihat nih, saya tidak bohong,'' ujar wanita bertubuh
kerempeng ini. Benjolan yang dimiliki Alwi Makalag
(26) malah tampak jelas. Wujudnya sebesar kelereng di
pelipis kanan. Akibat benjolan yang tumbuh sejak 2002
ini, pandangannya sering terganggu selaput dan
menimbulkan pusing.
Tidak hanya itu, bagian tubuh Alwi lainnya juga
menjadi lahan subur benjolan. Muncul pada jari
telunjuk kiri dan pergelangan kaki kanan. ''Di bawah
perut dan pantat kiri, juga mulai bersemi benjolan,''
katanya.
Di Buyat Pantai suasananya memang penuh keanehan oleh
penyakit yang mereka derita. Seorang pria berkulit
kelam, Ili Carlos (34), bila berjalan kadang merayap.
Padahal, tubuhnya terlihat agak kekar. ''Berjalan 10
menit saja, kaki langsung kram, dan punggung rasanya
mau lepas,'' katanya. Jadi, hampir tidak ada warga
yang sehat di Buyat Pantai. ''Kami adalah generasi
benjolan yang sudah putus asa,'' cetus Mansyur, lirih.
Di lengan kirinya, pada 1999, juga timbul benjolan.
Namun, sudah dioperasi dan segera berhenti makan ikan
dari Teluk Buyat, sehingga kini bebas dari benjolan.
Berhenti makan ikan juga dilakukan Ahyani (30 tahun)
setelah sering mengalami anfal. Namun, benjolan kecil
di telapak kaki kanannya, belum hilang. Mungkin butuh
operasi seperti dijalani Mansyur. Tapi, lagi-lagi ia
terbelit masalah kemiskinan, sehingga tak bisa
operasi. Bagi warga Buyat Pantai, sekadar memeriksakan
kesehatan ke dokter Puskesmas yang dibangun PT NMR,
sudah merupakan kemewahan. Sebab untuk menyambung
hidup saja mereka baru belajar berkebun setelah
berhenti menangkap dan memakan ikan dari Teluk Buyat.
Oleh dokter Puskesmas, mereka tetap diperlakukan
sebagai pasien biasa yang dikenakan tarif Rp 40 ribu
sekali berkunjung.
Tapi, penyakit mereka tidak pernah didiagnosis dan
diobati secara tuntas. Sang dokter selalu mengatakan
bahwa mereka hanya terkena penyakit kulit dan infeksi
saluran pernapasan. Ini pula yang kemudian diucapkan
Menteri Kesehatan Ahmad Sujudi yang tidak pernah
berkunjung ke Buyat Pantai. Tak adanya penanganan yang
serius dan tuntas, warga Buyat Pantai pun teraniaya
dalam waktu panjang. Ragam penyakit menyergapnya sejak
PT NMR menjadikan Teluk Buyat sebagai tempat
pembuangan tailing.
''Tubuh mereka tercemar logam berat. Negara harus ikut
bertanggung jawab untuk mengobati dan merawat mereka
secara paripurna,'' kata Dr Jane Pangemanan, dari
Fakultas Kedokteran Jurusan Kesehatan Masyarakat,
Universitas Sam Ratulangi (Unsrat), Manado. Tapi, Dr
Jane dan warga Buyat Pantai kini betul-betul
merasakan, di negeri ini, rakyat kecil tidak mudah
untuk mendapatkan perhatian dan perlindungan dari
pemerintah. Baginya, harus dengan cara apa lagi
membuktikan bahwa mereka adalah korban pencemaran
lingkungan yang perlu segera ditolong. Apakah masih
menunggu banyak lagi bayi lahir seperti Andini? (bersambung)
------=_NextPart_001_009B_01C47FD5.D3300E00 Content-Type: text/html;
charset="iso-8859-1"
Content-Transfer-Encoding: quoted-printable
<!DOCTYPE HTML PUBLIC "-//W3C//DTD HTML 4.0 Transitional//EN">
<HTML><HEAD><TITLE id=3DridTitle>Blank</TITLE>
<META http-equiv=3DContent-Type content=3D"text/html; charset=3Diso-8859-1"=
>
<STYLE><!-- body { font-family: Arial, Helvetica; font-size: 10pt; color: =
#000000; margin-top: 25px; margin-left: 25px; } P.msoNormal, LI.msoNormal =
{ font-family: Helvetica, "Times New Roman"; font-size: 10pt; margin-top: 0=
px; margin-left: 0px; color: "#ffffcc"; } --></STYLE>
<META content=3D"MSHTML 6.00.2600.0" name=3DGENERATOR></HEAD>
<BODY id=3DridBody background=3Dcid:882405111@11082004-1bed><FONT face=3DVe=
rdana><FONT=20
size=3D2>
<DIV>Date: Tue, 10 Aug 2004 01:07:34 -0700 (PDT)</DIV>
<DIV>From: A Nizami <nizaminz@...></DIV>
<DIV>Subject: Kasus Buyat 2</DIV>
<DIV> </DIV>
<DIV>Kamis, 05 Agustus 2004</DIV>
<DIV>Laporan dari Teluk Buyat (2) </DIV>
<DIV>Kami adalah Generasi Benjol </DIV>
<DIV> </DIV>
<DIV>Lepas sudah penderitaan bayi Andini Lensun. Ia</DIV>
<DIV>tertidur tenang untuk selamanya di makam yang terletak</DIV>
<DIV>di pekarangan samping rumah orang tuanya, Kampung</DIV>
<DIV>Buyat Pantai. Peringatan 20 hari meninggalnya Andini,</DIV>
<DIV>akhir pekan ketiga bulan lalu, berlangsung sangat</DIV>
<DIV>sederhana karena tiadanya biaya. </DIV>
<DIV> </DIV>
<DIV>Haul Andini yang menyedihkan itu agaknya tak terendus</DIV>
<DIV>oleh panitia pesta makan ikan di Pantai Lakban, di</DIV>
<DIV>kemudian hari. Pesta ini digelar untuk menunjukkan tak</DIV>
<DIV>ada pencemaran di Teluk Buyat, baik itu yang</DIV>
<DIV>disponsori oleh PT NMR maupun Menteri Lingkungan Hidup</DIV>
<DIV>Nabiel Makarim. Bunga atau ucapan duka cita hanya</DIV>
<DIV>datang dari LSM: Yayasan Sahabat Perempuan, Kelola,</DIV>
<DIV>Nurani, dan Walhi.</DIV>
<DIV> </DIV>
<DIV>Sang ibu, Masna Stirman, sedang bersama LBH Kesehatan</DIV>
<DIV>di Jakarta berikut tiga warga Buyat Pantai lainnya.</DIV>
<DIV>Belakangan, datang lagi 11 orang. Mereka berusaha</DIV>
<DIV>membawa kabar buruk ke pemerintah pusat agar terbuka</DIV>
<DIV>mata lahir dan mata hatinya terhadap derita warga</DIV>
<DIV>Buyat Pantai.</DIV>
<DIV> </DIV>
<DIV>Andini lahir pada Januari 2004 dalam kondisi fisik</DIV>
<DIV>mengenaskan. Kulitnya seperti hangus terbakar,</DIV>
<DIV>berbintik-bintik, dan bernanah. Nyawanya tak</DIV>
<DIV>tertolong. Anak ketiga pasangan Andi Lensun dan Masna</DIV>
<DIV>ini, meninggal pada 3 Juli lalu. </DIV>
<DIV> </DIV>
<DIV>Hampir bersamaan dengan kelahiran Andini, sebetulnya</DIV>
<DIV>ada satu bayi lagi yang lahir cacat di Kampung Buyat</DIV>
<DIV>Pantai. Umurnya pun lebih singkat, cuma dua bulan.</DIV>
<DIV>Meninggal pada 29 Februari 2004. Ibunya, Hasmia</DIV>
<DIV>Modeong (39), sempat memberinya nama, Ami.</DIV>
<DIV>''Kondisinya tak kalah mengenaskan,'' kata Mansyur</DIV>
<DIV>Lombonaung (50 tahun), tokoh warga setempat.</DIV>
<DIV> </DIV>
<DIV>Ketika lahir, sosok Ami terlihat aneh. Jika bayi</DIV>
<DIV>normal antara dada dan perut relatif rata, tapi postur</DIV>
<DIV>anak ini berbeda. Dadanya terlihat mengembung dan</DIV>
<DIV>bulat. Antara perut dan dada dipisahkan oleh bagian</DIV>
<DIV>yang menjorok, seperti diikat seutas tali.</DIV>
<DIV> </DIV>
<DIV>Kepala Ami besar dan mukanya mungil layaknya penderita</DIV>
<DIV>hedrosipalus. Di kulitnya ada keanehan. ''Jika sedang</DIV>
<DIV>diam terlihat putih, tapi kalau menangis, tiba-tiba</DIV>
<DIV>kulitnya menghitam (gelap),'' kata Hasmia yang sudah</DIV>
<DIV>menjanda sejak hamil tua untuk Ami. Anak ketujuhnya</DIV>
<DIV>ini meninggal ketika hendak dilarikan ke rumah sakit.</DIV>
<DIV>Sri Fika Modeong (2 tahun) adalah contoh lain bocah</DIV>
<DIV>Buyat Pantai yang menderita penyakit gangguan pada</DIV>
<DIV>organ tubuh. Sejak lahir, di beberapa bagian tubuhnya</DIV>
<DIV>terdapat borok. Kini kedua ketiaknya tampak merah,</DIV>
<DIV>lecet, dan selalu basah oleh nanah.</DIV>
<DIV> </DIV>
<DIV>Saat ini, Sri Fika ikut berjuang bersama sang ibu,</DIV>
<DIV>Juhria Ratumbahe, di Jakarta. Mereka ingin menunjukkan</DIV>
<DIV>bahwa telah hidup dan memakan ikan dari Teluk Buyat</DIV>
<DIV>yang menjadi ''bak sampah raksasa'' limbah tambang</DIV>
<DIV>emas (tailing) PT Newmont Minahasa Raya (MNR). Hasil</DIV>
<DIV>penelitian laboratorium Fakultas MIPA Universitas</DIV>
<DIV>Indonesia menyebutkan mereka positif terkena limbah</DIV>
<DIV>berkandungan logam berat merkuri.</DIV>
<DIV> </DIV>
<DIV>Yang terjadi pada Krifanes Ismail alias Ivan (1,5</DIV>
<DIV>tahun) agak unik. Ia tampak segar bugar. Anak dari</DIV>
<DIV>pasangan Marjan Ismail dan Jein Rorong ini kulitnya</DIV>
<DIV>terlihat bersih dan halus. Tapi, setelah diselidiki,</DIV>
<DIV>ia bukan tanpa kelainan. Di bagian bawah ujung lidah</DIV>
<DIV>Ivan, terdapat benjolan warna putih sebesar biji</DIV>
<DIV>jagung sejak sebulan terakhir. Ada kalanya daging</DIV>
<DIV>tumbuh itu mengeluarkan darah. Mungkin kaget atau</DIV>
<DIV>sakit, Ivan pun suka menjerit-jerit. </DIV>
<DIV> </DIV>
<DIV>Ayahnya, Marjani, sudah dua tahun mengalami gangguan</DIV>
<DIV>kesehatan. Timbul dua benjolan sebesar kelereng di</DIV>
<DIV>kedua dadanya. Ketahanan tubuhnya menurun, mudah</DIV>
<DIV>lelah, dan tidak lagi bisa bekerja berat. Sedangkan</DIV>
<DIV>sang istri, mengalami gejala yang sama, tapi belum</DIV>
<DIV>memiliki benjolan.</DIV>
<DIV> </DIV>
<DIV>Seorang bocah perempuan, Nursiah (5 tahun), yang</DIV>
<DIV>dipergoki Republika sedang buang air kecil di tepi</DIV>
<DIV>jalan juga mengalami gejala itu. Mulutnya meringis</DIV>
<DIV>menahan sakit. Di sekitar mahkota anak itu, kulitnya</DIV>
<DIV>lecet. Mirip yang dialami Sri Fika di ketiaknya.</DIV>
<DIV> </DIV>
<DIV>Sedangkan Mirawati (9 tahun), terpaksa putus sekolah.</DIV>
<DIV>Waktunya banyak dihabiskan dengan berbaring di dalam</DIV>
<DIV>kamar rumahnya yang sempit dan berlantai tanah. Anak</DIV>
<DIV>Jafar Paparo ini, sesekali, kepalanya muncul dari</DIV>
<DIV>pintu kamar untuk mengintip ke luar dengan mata nanar.</DIV>
<DIV>Ada apa dengan bocah itu? Sejak setahun terakhir,</DIV>
<DIV>Mirawati memiliki benjolan di lipatan kaki kanannya.</DIV>
<DIV>Semakin lama ukurannya membesar, dan kini sudah</DIV>
<DIV>sebesar ibu jari tangan orang dewasa.</DIV>
<DIV> </DIV>
<DIV>Mirawati tak mampu berjalan jauh. Baru 50 meter saja</DIV>
<DIV>melangkah, langsung terhenti. ''Kalau sudah begitu,</DIV>
<DIV>dia suka kejang dan jatuh,'' kata Jafar. Karena itu,</DIV>
<DIV>orang tuanya terpaksa meminta Mirawati berhenti</DIV>
<DIV>sekolah di SD Inpres Buyat, yang harus ditempuh dengan</DIV>
<DIV>jalan kaki sejauh 1,5 km.</DIV>
<DIV> </DIV>
<DIV>Berkaca pada kasus anak-anak yang lahir dan tumbuh</DIV>
<DIV>cacat atau mengalami gangguan kesehatan, pasangan</DIV>
<DIV>Akbar Manope (28 tahun) dan Sulista Paputungan (22</DIV>
<DIV>tahun), menjadi gundah gulana. Sang istri kini tengah</DIV>
<DIV>hamil tujuh bulan untuk anak kedua mereka. </DIV>
<DIV> </DIV>
<DIV>Akbar dan Sulista cukup beralasan untuk cemas. Ia</DIV>
<DIV>sendiri merasakan kondisi fisiknya banyak mengalami</DIV>
<DIV>gangguan kesehatan. Bangun tidur sering mengalami</DIV>
<DIV>keram, sakit tulang, kepala nyut-nyutan, dan sulit</DIV>
<DIV>berdiri. Pada pangkal kemaluannya terdapat benjolan</DIV>
<DIV>sebesar biji jagung. Sedangkan di sekitar alat vital</DIV>
<DIV>istrinya, mengalami gatal-gatal.</DIV>
<DIV> </DIV>
<DIV>Mereka tak berani menjalani kuret, seperti dilakukan</DIV>
<DIV>istri Hendri saat kehamilannya berumur empat bulan.</DIV>
<DIV>Akbar dan Sulista setiap hari hanya bisa berdoa supaya</DIV>
<DIV>jabang bayinya lahir dengan sehat. ''Ya Allah, jangan</DIV>
<DIV>sampai anakku seperti Andini,'' ratap Sulista pada</DIV>
<DIV>Jumat malam yang sunyi, akhir bulan lalu.</DIV>
<DIV> </DIV>
<DIV>Sejak kasus Andini, pasangan suami-istri di Buyat</DIV>
<DIV>pantai sebetulnya sudah enggan bereproduksi. Tapi,</DIV>
<DIV>bagi mereka, apa daya. Hasrat berhubungan intim tak</DIV>
<DIV>dapat dibendung. Sedangkan untuk menggunakan</DIV>
<DIV>kontrasepsi tak punya biaya. ''Untuk makan saja</DIV>
<DIV>susah,'' kata Ida (22).</DIV>
<DIV> </DIV>
<DIV>Ida yang sedang menyusui anaknya, Bachtiar (4 bulan),</DIV>
<DIV>memiliki benjolan sebesar kelereng di payudara kanan.</DIV>
<DIV>''Rasanya sakit. Kalau dipijit keluar darah dan</DIV>
<DIV>nanah,'' katanya. Pada payudara satunya lagi, juga</DIV>
<DIV>mulai ada tanda-tanda benjolan. Ia mencemaskan anaknya</DIV>
<DIV>ikut tercemar. ''Bachtiar sudah mulai sakit-sakitan,</DIV>
<DIV>pada ketiaknya muncul luka,'' tuturnya. Sedangkan</DIV>
<DIV>suaminya, Sadam Maulengseng (32), sejak 2001 mengalami</DIV>
<DIV>gejala ngilu pada tulang dan merasa pusing-pusing.</DIV>
<DIV> </DIV>
<DIV>Bertanya dan mencatat setiap keluhan warga Buyat</DIV>
<DIV>Pantai tentang kondisi kesehatannya memerlukan kertas</DIV>
<DIV>tebal dan pena cadangan. Orang yang secara kasat mata</DIV>
<DIV>tampak sehat, jika diminta buka pakaian, atau ditanya</DIV>
<DIV>keluhan yang dirasakannya, pasti memiliki masalah</DIV>
<DIV>dengan tubuhnya. Tengok pula Sudiro Paputungan (31</DIV>
<DIV>tahun). Sejak 2003, memiliki benjolan sebesar kelereng</DIV>
<DIV>yang tersembunyi di langit-langit mulutnya. ''Kalau</DIV>
<DIV>lagi kambuh, muka rasanya keram dan muntah-muntah,''</DIV>
<DIV>katanya. </DIV>
<DIV> </DIV>
<DIV>Sedangkan ibunya, Saidah Paputungan (52), sudah satu</DIV>
<DIV>tahun ada benjolan di pergelangan tangan kirinya.</DIV>
<DIV>''Lihat nih, saya tidak bohong,'' ujar wanita bertubuh</DIV>
<DIV>kerempeng ini. Benjolan yang dimiliki Alwi Makalag</DIV>
<DIV>(26) malah tampak jelas. Wujudnya sebesar kelereng di</DIV>
<DIV>pelipis kanan. Akibat benjolan yang tumbuh sejak 2002</DIV>
<DIV>ini, pandangannya sering terganggu selaput dan</DIV>
<DIV>menimbulkan pusing. </DIV>
<DIV> </DIV>
<DIV>Tidak hanya itu, bagian tubuh Alwi lainnya juga</DIV>
<DIV>menjadi lahan subur benjolan. Muncul pada jari</DIV>
<DIV>telunjuk kiri dan pergelangan kaki kanan. ''Di bawah</DIV>
<DIV>perut dan pantat kiri, juga mulai bersemi benjolan,''</DIV>
<DIV>katanya.</DIV>
<DIV> </DIV>
<DIV>Di Buyat Pantai suasananya memang penuh keanehan oleh</DIV>
<DIV>penyakit yang mereka derita. Seorang pria berkulit</DIV>
<DIV>kelam, Ili Carlos (34), bila berjalan kadang merayap.</DIV>
<DIV>Padahal, tubuhnya terlihat agak kekar. ''Berjalan 10</DIV>
<DIV>menit saja, kaki langsung kram, dan punggung rasanya</DIV>
<DIV>mau lepas,'' katanya. Jadi, hampir tidak ada warga</DIV>
<DIV>yang sehat di Buyat Pantai. ''Kami adalah generasi</DIV>
<DIV>benjolan yang sudah putus asa,'' cetus Mansyur, lirih.</DIV>
<DIV>Di lengan kirinya, pada 1999, juga timbul benjolan.</DIV>
<DIV>Namun, sudah dioperasi dan segera berhenti makan ikan</DIV>
<DIV>dari Teluk Buyat, sehingga kini bebas dari benjolan.</DIV>
<DIV> </DIV>
<DIV>Berhenti makan ikan juga dilakukan Ahyani (30 tahun)</DIV>
<DIV>setelah sering mengalami anfal. Namun, benjolan kecil</DIV>
<DIV>di telapak kaki kanannya, belum hilang. Mungkin butuh</DIV>
<DIV>operasi seperti dijalani Mansyur. Tapi, lagi-lagi ia</DIV>
<DIV>terbelit masalah kemiskinan, sehingga tak bisa</DIV>
<DIV>operasi. Bagi warga Buyat Pantai, sekadar memeriksakan</DIV>
<DIV>kesehatan ke dokter Puskesmas yang dibangun PT NMR,</DIV>
<DIV>sudah merupakan kemewahan. Sebab untuk menyambung</DIV>
<DIV>hidup saja mereka baru belajar berkebun setelah</DIV>
<DIV>berhenti menangkap dan memakan ikan dari Teluk Buyat.</DIV>
<DIV>Oleh dokter Puskesmas, mereka tetap diperlakukan</DIV>
<DIV>sebagai pasien biasa yang dikenakan tarif Rp 40 ribu</DIV>
<DIV>sekali berkunjung.</DIV>
<DIV> </DIV>
<DIV>Tapi, penyakit mereka tidak pernah didiagnosis dan</DIV>
<DIV>diobati secara tuntas. Sang dokter selalu mengatakan</DIV>
<DIV>bahwa mereka hanya terkena penyakit kulit dan infeksi</DIV>
<DIV>saluran pernapasan. Ini pula yang kemudian diucapkan</DIV>
<DIV>Menteri Kesehatan Ahmad Sujudi yang tidak pernah</DIV>
<DIV>berkunjung ke Buyat Pantai. Tak adanya penanganan yang</DIV>
<DIV>serius dan tuntas, warga Buyat Pantai pun teraniaya</DIV>
<DIV>dalam waktu panjang. Ragam penyakit menyergapnya sejak</DIV>
<DIV>PT NMR menjadikan Teluk Buyat sebagai tempat</DIV>
<DIV>pembuangan tailing.</DIV>
<DIV> </DIV>
<DIV>''Tubuh mereka tercemar logam berat. Negara harus ikut</DIV>
<DIV>bertanggung jawab untuk mengobati dan merawat mereka</DIV>
<DIV>secara paripurna,'' kata Dr Jane Pangemanan, dari</DIV>
<DIV>Fakultas Kedokteran Jurusan Kesehatan Masyarakat,</DIV>
<DIV>Universitas Sam Ratulangi (Unsrat), Manado. Tapi, Dr</DIV>
<DIV>Jane dan warga Buyat Pantai kini betul-betul</DIV>
<DIV>merasakan, di negeri ini, rakyat kecil tidak mudah</DIV>
<DIV>untuk mendapatkan perhatian dan perlindungan dari</DIV>
<DIV>pemerintah. Baginya, harus dengan cara apa lagi</DIV>
<DIV>membuktikan bahwa mereka adalah korban pencemaran</DIV>
<DIV>lingkungan yang perlu segera ditolong. Apakah masih</DIV>
<DIV>menunggu banyak lagi bayi lahir seperti Andini? (bersambung)</DIV>
<DIV> </DIV>
<DIV> </DIV>
<DIV> </DIV></FONT></FONT></BODY></HTML>
------=_NextPart_001_009B_01C47FD5.D3300E00--

